Selamat datang di blog Cara Beternak dan Budidaya, Silahkan cari artikel yang anda butuhkan dengan mengetikan keyword di kotak pencarian
Hasil pencarian
Hasil pencarian
inseminasi buatan dan reproduksi sapi perah
Manajemen pemeliharaan sapi perah perlu di laksanakan dengan baik, terprogram dan terencana. Manajemen pemeliharaan secara umum meliputi manajemen pakan, perkandangan, pemerahan dan reproduksi. Dalam hal ini manajemen reproduksi adalah hal yang penting untuk diperhatikan. Pelaksanaan manajemen reproduksi sapi perah di tujukan supaya aspek produksi dapat berjalan dengan efisien.

Pemeliharaan sapi perah akam membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan poduksi yang maksimal. Mulai dari pedet sampai dewasa dan melahirkan pertama  pada umur kurang lebih 26 – 30 bulan. Semakin cepat beranak tentunya akan semakin baik, karena sapi akan berproduksi ketika ia sudah beranak. Nah waktu beranak pertama dan kedua serta seterusnya perlu direncanakan.

Faktor yang paling utama dalam reproduksi sapi perah ini yaitu jarak beranak (calving interval, day open (DO), dan service per conseption (S/C).


Jarak Beranak (Calving Interval)

Calving inerval adalah dimana seekor induk sapi perah dapat beranak (menghasilkan pedet) dalam jangka waktu yang pendek. Semaikin cepat menghasilkan pedet maka semakin tinggi pula nilai efisiensi pemeliharaan karena dapat menghasilkan susu untuk dijual dan populasi akan bertambah. Jarak waktu beranak (CI) yang ideal adalah 12 bulan, yaitu 9 bulan bunting dan 3 bulan menyusui. Efisiensi reproduksi dikatakan baik apabila seekor induk sapi dapat menghasilkan satu pedet dalam satu tahun (Ball and Peters, 2004).

Pada umumnya di peternakan rakyat kurang lebih 13 -  15 bulan karena hal ini menyangkut beberapa faktor yaitu S/C yang tinggi dan pengaruh pakan (Moran, 2005).  Rataan Jarak beranak sapi perah yang baik yaitu 377 hari (Iskandar dan Farizal, 2011). Jadi panjangnya  jarak beranak ini terletak faktor  S/C dan pakan sehingga solusi yang harus di tempuh peternak adalah dengan perbaikan kualitas pakan.


Day Open (Masa Kosong)

Day open adalah dimana lamanya waktu kosong setelah sapi beranak sampai dikawinkan kembali akibat keterlambatan birahi. Pirlo et al., (2000) menyatakan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan penundaan umur kawin pertama adalah birahi yang terlambat, kesalahan dalam deteksi birahi, kurangnya bobot badan, dan faktor lingkungan.

Menurut Stevenson (2001); Izquierdo, et al. (2008) dan Ali.,et al. (2000) bahwa DO untuk sapi perah betina normalnya adalah 40-60 hari atau 85-115 hari dan tidak ada masa kosong yang kurang dari 30 hari. Sedangkan pada umumnya di peternakan rakyat bisa lebih dari 85 hari yang akan berpengaruh kepada calving interval.

Jadi solusi yang harus dilakukan adalah dengan memperhatikan keseimbangan nutrisi pakan agar bobot tubuh  saat dikawinkan sesuai standar dan merencanakan perkawinan (umur ketika akan dikawinkan, umur kebuntingan dan umur beranak), deteksi birahi yang tepat , faktor lingkungan (kebersihan dan iklim) serta perlakuan perawatan (tretment) sapi yang baru melahirkan, karena Sapi yang baru melahirkan akan terjadi infeksi pada alat reproduksinya yaitu infolusi uterus akibat dari kontraksi dinding uterus untuk mendorong pedet keluar. Proses perawatan dilakukan minimal 60 hari kemudian barulah dikawinkan kembali.


Service per conseption

Service per conception merupakan perbandingan berapa kali perlakuan pelaksanaan perkawinan sampai terjadi kebuntingan. Nilai S/C ini sangat dipengaruhi oleh fktor manusia terutama pada proses perkawinan buatan (inseminasi buatan).  Seperti  pernyataan Johnson, Weitze and Maxwell, (2006) bahwa tingginya nilai S/C diantaranya adalah petugas inseminator . Jainudeen dan Hafez (2008) yang menyatakan bahwa nilai S/C yang normal adalah 1,6-2,0.

Jadi solusi yang harus dilakukan peternak adalah dengan cara peningkatan ketrampilan inseminator melalui pelatihan-pelatihan inseminator balai besar inseminasi buatan Singosari dan BBIB lembang, dan perlu memperhatikan kesehatan induk serta  kualitas semen yang digunakan.


Artikel ini bersumber dari pustaka pada jurnal kemudian saya kembangkan lagi, apabila ingin menyalin tulisan ini maka sertakan sumbernya www.ternakapaaja.blogspot.com dan daftar putaka berikut :


Ball, P.J.H and Peters, A.R. 2004. Reproduction In Cattle. Third Edition. Blackwell Publishing.Victoria. Australia. De Vries, A. 2006. Determinants of the cost of days open in dairy cattle. Department of Animal Sciences. University of Florida. Gainesville 32611. USA.
Iskandar dan Farizal. 2011. Prestasi Reproduksi Sapi Persilangan yang Dipelihara di Dataran  Rendah dan Dataran Tinggi Jambi. Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Sains. 13 (1): 25-28.
Izquierdo, C.A., Campos, V.M.X., Lang,C.G.R., Oaxaca, J.A.S., Suares, S.C., Jimenez, C.A.C., Jimenez, M.S.C., Betancurt, S.D.P., and Liera, J.E.G. 2008. Effect of the Offsprings Sex on Open Days in Dairy Cattle. Journal Animal Veteriner. 7 (10): 1329-1331.
 Jainudeen, M.R. and Hafez, E.S.E. 2008. Cattle And Buffalo dalam Reproduction In Farm Animals. 7th Edition. Edited by Hafez E. S. E. Lippincott Williams & Wilkins. Maryland. USA.
Johnson, L. A., Weitze, K. F., Fiser, P and Maxwell, W. M. C. 2006. Storage Of Boar Semen. Animal Reproduction Science. 62 (2000): 143–172.
Moran, J. 2005. Tropical Dairy Farming. Feeding Management for Small Holder Dairy Farmers
in Humid Tropics. Lanandlinks Press. Collingwood VIC. Australia.
Pirlo, G., Milflior, F. And Speroni, M. 2000. Effect of Age at First Calving on Production Traits and Difference Between Milk Yield and Returns and Rearing Cost in
Italian Holsteins. Journal Dairy Science. 83 (3): 603-608.
Stevenson, J.S. 2001. Reproductive Management of Dairy Cows inhigh Milk-Producing Herds. Journal Dairy Science. 84 (3): 128-143.): 19- 29.

Contact Person

AVIAN JAYA FARM
Nama        : AVIAN TRENGGONO
Alamat      : Jl. Sukaraya-sukatani, Bekasi
Email         : aviantrenggono@yahoo.com
Hp              : 082137612234
Facebook : Avian Trenggono
Twitter      : Avian_trg
Website      : ternakapaaja.blogspot.co.id

VISITORS

Flag Counter