Selamat datang di blog Cara Beternak dan Budidaya, Silahkan cari artikel yang anda butuhkan dengan mengetikan keyword di kotak pencarian
Hasil pencarian
Hasil pencarian
Kematian ayam akibat pergantian musim

Rekan-rekan semua salam sejahtera, bahasan kali ini adalah hal yang sangat di takutkan oleh para peternak khususnya ternak unggas. Pergantian musim, ya pada kondisi ini terjadi perubahan-perubahan fisik pada lingkungan mulai dari suhu, kelembaban, curah hujan terik matahari dll.

Kita mulai dari iklim, apa itu iklim?? Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca dalam waktu yang panjang. Yang bisa terjadi 4-6 bulan tiap tahunnya.

Ciri-ciri Iklim khususnya di Indonesia
negara Indonesia hanya memiliki 2 musim yaitu musim hujan dan musim panas, pergantian antar musim inilah yang menyebabkan terjadinya konflik penyebabmunculnya penyakit yang mudah berkembang biak terutama pada pergantian antar musim panas ke musim penghujan. Ciri-ciri kondisi iklim di indonesia memiliki curah hujan yang tinggi (1800m/tahun), matahari bersinar sepanjang tahun, Temperatur udara relatif panas sampai dengan sejuk, Kelembaban tinggi (mencapai lebih dari 90%), Aliran udara relatif sesuai kebutuhan manusia, Amplitude temperatur siang-malam 2 s/d 5oC (karena kelembaban udara yang tinggi). Indonesia mempunyai karakteristik khusus, baik dilihat dari posisi, maupun keberadaanya, sehingga mempunyai karakteristik iklim yang spesifik. Di Indonesia terdapat tiga jenis iklim yang mempengaruhi iklim di Indonesia, yaitu iklim musim (muson), iklim tropica (iklim panas), dan iklim laut.

Perubahan iklim merupakan sesuatu yang sulit untuk dihindari dan memberikan dampak terhadap berbagai segi kehidupan. Dampak ekstrem dari perubahan iklim terutama adalah terjadinya kenaikan temperature/suhu akibat pergeseran musim.

Dampak perubahan iklim pada ternaak ayam buras
Dalam Pemeliharaan Ayam Buras (Ayam Kampung) pada umumnya secara Ekstensif atau diumbar secara bebas berkeliaran. Namun sebagian kecil dilakukan pola pemeliharaan secara Semi Intensif, dimana dalam rentang waktu tertentu dikandangkan, namun dalam rentang waktu yang lain diumbar secara bebas. Dengan demikian Kontrol Produksi, Kontrol Kesehatan serta Seleksi /Culling hamper tidak Pernah dilakukan.
Hal hal seperti ini akan menyebabkan banyak sekali kemungkinan kasus penularan penyakit akibat dari kontrol kesehatan yang kurang diperhatikan tidak hanya pada ayam yang di umbar tetapi juga pada ayam pemeliharaan sistem intensif. Kondisi Iklim yang mengalami perubahan tentunya karena adanya fluktuasi kondisi cuaca. Parameter kondisi cuaca antara lain Curah Hujan, Suhu dan Kelembaban.  Secara Mikro Kondisi cuaca terus mengalami perubahan sehingga akan berlanjut kepada kondisi makro yaitu Perubahan Iklim. Faktor cuaca yang paling dominan adalah Fluktuasi Suhu dan Kelembaban harian, akan menyebabkan kondisi Makro (lingkungan Kita) dan Kondisi Mikro (Tubuh makhluk hidup) mengalami daya adaptasi yang luar biasa beratnya.

Persiapan Apa saja untuk menghadapi Kondisi Mikro dan makto Lingkungan yang demikian
Bagaimana dampaknya Kepada Makhluk Hidup yang memiliki aktivitas : Tumbuh dan Berkembang ?

Adapun Langkah yang bisa dilakukan adalah :
Internal
  • Seleksi Bibit (Seleksi dan culling terus menerus)
  • Pemberian Pakan dan Minum yang sehat
  • Kandang Intensif yang nyaman
  • Kontrol Kesehatan Ayam
  • Pencegahan (Vaksinasi) dan Penanggulangan Penyakit secara Tepat dan Cepat
  • Penanganan Limbah yang terencana dan terkontrol serta peduli lingkungan
Eksternal
  • Sosialisasi terus menerus (formal dan Informal)
  • Action Individu dan Key Person
  • Gerakan Masyarakat

Secara Garis Besar Penyakit Unggas (Ayam) Penyakit terdiri dari : Penyakit Menular  dan Penyakit Tidak Menular, Penyakit menular disebabkan oleh : Virus,  Bakteri dan Parasit sedangkan, Penyakit tidak menular disebabkan antara lain : Defisiensi Gizi, Alfatoxicosis, Keracunan Garam  dan Gangguan Limbah, Virus : ND (New castle Disease), IB (infektios Bronchitis), ILT, Mareks, LL, Fowl Pox, IBD, AE, EDS’76, Gumboro., Bakteri : CRD, SNOT (CORYZA), Kholera, E. Coli, Pullorum, Staphylococcus, Streptococcus, Parasit : Caplak, Lalat, Kutu, nyamuk (Ektoparasit) dan Cacing, Coccidiosis, Jamur parasit Darah (Endoparasit), Defisiensi Gizi : Vitamin, Mineral, Asam Amino, Protein, Energi dll. Alfatoxixosis : Racun Jamur dan Gangguan Limbah berupa Amoniak yang menyebabkan pernafasan tidak normal.
 
Yang Perlu diwasdai terkait Perubahan Iklim dan Cuaca
  • Nd (Tetelo/Aratan),
  • Crd (Ngorok),
  • Snot (Coryza),
  • Kholera (Berak Hijau)
  • Coccidiosis (Berak Darah)
  • Pullorum (Berak Kapur)

Penyakit yg palin berbahaya pada musim penghujan ini adalah Avian Influenza atau Flu Burung dan Newcastle Desease (ND), Gejala Flu Burung mirip dengan ND dan sulit dibedakan. sedangkan cara  mengantisipasinya  yaitu dengan vaksinasi dan Biosekuriti, karena selain cara ini misalnya pengobatan sangat mustahil menyembuhkan penyakit yang berasal dari virus ini.

SEMOGA BERMANFAAT ....!!!

http://www.ternakapaaja.blogspot.comSebagai seorang peternak tentunya aktivitas keseharian kita tidak lepas dengan segala usaha untuk mencegah agar ternak yang kita pelihara terhindar dari penyakit. Akan tetapi apa yang harus kita lakukan ketika penyakit tersebut telah menyerang ternak kita? Bagi anda yang memiliki supervisor atau tenaga ahli yang mengurusi bidang kesehatan ternak anda maka anda tentunya tidak akan pusing-pusing memikirkannya, namun bagaimana dengan anda yang menangani usaha peternakan seorang diri?.

Ketika penyakit telah menyerang ternak maka harus kita ketahui apa penyakit tersebut sehingga kita dapat menentukan treatmen terbaik dan melakukan pencegahan atas penyakit tersebut. Dalam menentukan penyakitpun terdapat beberapa cara dan salah satunya adalah dengan melakukan bedah bangkai
Proses melakukan bedah bangkai memiliki rangkaian agar proses pelaksanaanya dapat mendapatkan hasil gambaran diagnose yang maksimal. Berikut runtutan cara bedah bangkai yang saya ketahui :
  1. Sebelum melakukan pembedahan terlebih dahulu kita amati bagian luar tubuh ayam seperti keadaan bulu, pangkal bulu, kulit, bulu sekitar kloaka,kepala, paruh,kaki,maupun abnormalitas lain yang tampak mulai dari kepala sampai ujung jari kaki.
  2. Setelah melakukan pengamatan secara menyeluruh, cobalah menekan bagian disekitar lubang hidung dan amati apakah ada cairan yang keluar dari lubang hidung tersebut
  3.  Dalam melakukan bedah bangkai sebaiknya yang digunakan adalah ayam yang telah mati namun belum terlalu lama sehingga reaksi pembusukan tidak mempengaruhi hasil diagnose
  4. Jika ayam yang akan kita amati masih dalam keadaan hidup maka harus dibunuh terlebih dahulu
  5. Basahi seluruh tubuh ayam dengan air dan sebaiknya air
  6. Sayat bagian antara perut dan paha. Sayat sampai memudahkan anda untuk mematahkan sendi pada pangkal paha (pertemuan os femur dan os tibia) sehingga ayam seperti “ngangkang”.
  7. Sayat kulit pada sisi mulut. Amati adanya kerusakan pada daerah ini karena cacar, aspergilosis atau penyakit lain.
  8. Sayat dan kuakkan kulit di daerah perut dan daerah dada
  9. Buka urat daging perut dan lepaskan daerah dada dengan memotong tulang rusuk
  10. Periksa kejernihan air sac yang tampak. Air sac normalnya jernih namun jika tampak keruh maka ayam terindikasi terinfeksi penyakit
  11. Sayat laryng dan trachea secara memanjang. Lihat dan periksa secara seksama adanya lender, pendarahan atau  abnormalitas lainnya seperti masa mengkeju dan lainnya.
  12. Periksa kerusakan atau kelainan paru-paru dan alat pernafasan lainnya.
  13. Buka oeseophagus dan periksa kemungkinan adanya luka karena benda asing atau adanya benjolan-benjolan kecil
  14. Sayat tembolok dan amatilah dengan seksama apakah tercium bau asam. Kemudian cuci dan periksalah kemungkinan adanya gejala aspergilosis atau kelainan lain
  15. Sayat proventrikulus, lihatlah adanya pendarahan dipermukaan lapisan putih
  16. Buka ventrikulus, periksalah apakah kasar dan ada kerusakan.
  17. Amati usus dengan seksama.amati pada bagian luar usus apakah terdapat benjolan atau adakah terdapat pendarahan.
  18. Sayat memanjang usus tersebut untuk melihat isinya. Lihatlah ada tidaknya cacing, gumpalan darah,peradangan,tukak,lender dan abnormalitas lainnya.
  19. Buka caecum dan periksa isinya. Apabila terdapat darah maka cuci dan periksa lapisan permukaanya. Adakah benda seperti keju, cacing dan luka parut
  20. Kemudian amati bagian-bagian seperti jantung, hati,limpa,thymus,ovarium dan salurannya, ginal, bursa fabricius serta kerusakan syaraf.
  21. Hasil-hasil yang telah ditemukan kemudian dijadikan sebuha kesimpulan untuk menentukan infeksi apa yang menyerang ayam yang kita pelihara. Kemudian setelah itu kita susun program pencegahnnya secara terpadu.
Cara Inspeksi :
  1. Seluruh tubuh ayam diamati untuk melihat adanya kelainan tubuh, misalnya: ada bungkul-bungkul pada pangkal bulu, bulu disekitar kloaka kotor, bintik kotoran didepan lubang hidung.
  2. Daerah sekitar lubang hidung ditekan dan diamati apakah ada cairan yang keluar.
  3. Ayam dibunuh dengan cara: dislokasi tulang kepala dan tulang leher pertama; dipotong; atau diberi udara ke paru-paru / jantung / pembuluh darah sehingga terjadi emboli udara di dalam organ tersebut.
  4. Bulu bangkai ayam dibasahi dan sayat bagian antara perut dengan pangkal paha.
  5. Patahkan sendi pada pangkal paha (pertemuan os femur dan os tibia). Letakkan pada meja bedah terlentang dengan bagian perut menghadap kepada pembedah.
  6. Sayat kulit pada sisi mulut. Amati adanya kerusakan pada daerah ini karena cacar, aspergillosis atau penyakit lain.
  7. Sayat dan kuakkan kulit di daerah dada.
  8. Buka urat daging perut dan lepaskan daerah dada dengan memotong tulang rusuk.
  9. Periksa ais sacc (kantung udara) yang tampak tidak jernih lagi, bila ada penyakit.
  10. Sayat laryng dan trachea memanjang. Periksa adanya lendir, pendarahan atau massa seperti keju. Periksa paru-paru dan alat pernafasan lainnya terhadap adanya kerusakan atau kelainan.
  11. Buka oesophagus. Periksa kemungkinan luka karena benda asing atau adanya benjolan-benjolan kecil.
  12. Iris crop. Teliti isinya apakah tercium bau asam, Kemudian cuci dan periksa kemungkinan gejala aspergillosis atau kelainan lain.
  13. Sayat proventriculus. Lihat adanya pendarahan di permukaan atau lapisan putih.
  14. Buka ventriculus, periksa apakah kasar dan adanya kerusakan.
  15. Amati usus, apakah ada benjolan-benjolan kecil, tumor atau pendarahan. Sayat memanjang untuk melihat cacing, gumpalan darah, peradangan, tukak, daerah pendarahan dan lendir yang berlebihan.
  16. Buka coecum, periksa isinya. Bila terdapat darah, cuci dan periksa lapisan permukaannya. Apakah ada benda seperti keju, cacing dan bekas luka perut.
  17. Amati jantung, hati, limpa dan thymus.
  18. Amati adanya kelainan ovarium, saluran indung telur, ginjal dan bursa fabrisius.
  19. Amati adanya kerusakan syaraf.

Untuk pecinta hewan seperti anjing dan monyet adakalanya untuk memperhatikan tentang penyakit rabies karena akan berakibat fatal bagi kesehatan manusia karena berpotensi menular dari hewa ke manusia atau zoonosis. Berikut adalah ulasan tentang penyakit rabies.

Rabies adalah penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus Rabies. Penyakit ini bersifat zoonotik, yaitu dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Virus Rabies ditularkan ke manusia melalui gigitan hewan misalnya oleh anjing, kucing, kera, rakun, dan kelelawar. Rabies disebut juga penyakit anjing gila.

 

Penyebab Rabies

Rabies disebabkan oleh virus Rabies yang masuk ke keluarga Rhabdoviridae dan genus Lysavirus. Virus ini hidup pada beberapa jenis hewan yang berperan sebagai perantara penularan. Spesies hewan perantara bervariasi pada berbagai letak geografis. Hewan-hewan yang diketahui dapat menjadi perantara Rabies antara lain rakun (Procyon lotor) dan sigung (Memphitis memphitis) di Amerika Utara, rubah merah (Vulpes vulpes) di Eropa, dan anjing di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Afrika, Asia, dan Amerika Latin memiliki tingkat Rabies yang masih tinggi.

Hewan perantara menginfeksi inang yang bisa berupa hewan lain atau manusia melalui gigitan. Infeksi juga dapat terjadi melalui jilatan hewan perantara pada kulit yang terluka. Setelah infeksi, virus akan masuk melalui saraf-saraf menuju ke sumsum tulang belakang dan otak dan bereplikasi di sana. Selanjutnya virus akan berpindah lagi melalui saraf ke jaringan non saraf, misalnya kelenjar liur dan masuk ke dalam air liur.

Meskipun sangat jarang terjadi, Rabies bisa ditularkan melalui penghirupan udara yang tercemar virus Rabies. Dua pekerja laboratorium telah mengkonfirmasi hal ini setelah mereka terekspos udara yang mengandung virus Rabies. Pada tahun 1950, dilaporkan dua kasus Rabies terjadi pada penjelajah gua di Frio Cave, Texas yang menghirup udara di mana ada jutaan kelelawar hidup di tempat tersebut. Mereka diduga tertular lewat udara karena tidak ditemukan sama sekali adanya tanda-tanda bekas gigitan kelelawar. 


Jenis-Jenis Rabies

Hewan yang terinfeksi bisa mengalami Rabies ganas ataupun Rabies jinak. Pada Rabies ganas, hewan yang terinfeksi tampak galak, agresif, menggigit dan menelan segala macam barang, air liur terus menetes, meraung-raung gelisah kemudian menjadi lumpuh dan mati. Pada Rabies jinak, hewan yang terinfeksi mengalami kelumpuhan lokal atau kelumpuhan total, suka bersembunyi di tempat gelap, mengalami kejang dan sulit bernapas, serta menunjukkan kegalakan.

Masa Inkubasi 

Masa inkubasi adalah waktu antara penggigitan sampai timbulnya gejala penyakit. Masa inkubasi penyakit Rabies pada anjing dan kucing kurang lebih 2 minggu (10 hari-14 hari). Pada manusia 2-3 minggu dan paling lama 1 tahun.

Tahapan Penyakit Rabies Pada Hewan

Perjalanan penyakit Rabies pada anjing dan kucing dibagi dalam 3 fase (tahap).
  1. Fase Prodormal: Hewan mencari tempat dingin dan menyendiri, tetapi dapat menjadi lebih agresif dan nervus, pupil mata meluas dan sikap tubuh kaku (tegang). Fase ini berlangsung selama 1-3 hari. Setelah fase Prodormal dilanjutkan fase Eksitasi atau bisa langsung ke fase Paralisa.
  2. Fase Eksitasi: Hewan menjadi ganas dan menyerang siapa saja yang ada di sekitarnya dan memakan barang yang aneh-aneh. Selanjutnya mata menjadi keruh dan selalu terbuka dan tubuh gemetaran, selanjutnya masuk ke fase Paralisa.
  3. Fase Paralisa: Hewan mengalami kelumpuhan pada semua bagian tubuh dan berakhir dengan kematian.

Tahapan Penyakit Rabies Pada Manusia

Gejala sakit yang akan dialami seseorang yang terinfeksi Rabies meliputi 4 stadium: 
  1. Stadium Prodromal: Dalam stadium prodomal sakit yang timbul pada penderita tidak khas, menyerupai infeksi virus pada umumnya yang meliputi demam, sulit makan yang menuju taraf anoreksia, pusing dan pening, dan lain sebagainya.
  2. Stadium Sensoris: Dalam stadium sensori penderita umumnya akan mengalami rasa nyeri pada daerah luka gigitan, panas, gugup, kebingungan, keluar banyak air liur, pupil membesar, hiperhidrosis, hiperlakrimasi.
  3. Stadium Eksitasi: Pada stadium eksitasi penderita menjadi gelisah, mudah kaget, kejang-kejang setiap ada rangsangan dari luar sehingga terjadi ketakutan pada udara (aerofobia), ketakutan pada cahaya (fotofobia), dan ketakutan air (hidrofobia). Kejang-kejang terjadi akibat adanya gangguan daerah otak yang mengatur proses menelan dan pernapasan. Hidrofobia yang terjadi pada penderita Rabies terutama karena adanya rasa sakit yang luar biasa di kala berusaha menelan air.
  4. Stadium Paralitik: Pada stadium paralitik setelah melalui ketiga stadium sebelumnya, penderita memasuki stadium paralitik ini menunjukkan tanda kelumpuhan dari bagian atas tubuh ke bawah yang progresif.
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKp2208jGDpPhjZ0J5EeKzLi8JRaifboCgsEVwLodTFSckVokuMYJbPC9wzrQqmCc0qWgZeCyDDH9vOP-PC4PaYAxZ2auv4oViEnDVFJ8OkNrP28CJPPewLtMOVVWMLGwD24lOLvr_xG56/s320/Rabies_patient.jpg

Karena durasi penyebaran penyakit yang cukup cepat maka umumnya keempat stadium di atas tidak dapat dibedakan dengan jelas. Gejala-gejala yang tampak jelas pada penderita di antaranya adanya nyeri pada luka bekas gigitan dan ketakutan pada air, udara, dan cahaya, serta suara yang keras.

Penanganan 

Bila terinfeksi Rabies, segera cari pertolongan medis. Rabies dapat diobati, namun harus dilakukan sedini mungkin sebelum menginfeksi otak dan menimbulkan gejala. Bila gejala mulai terlihat, tidak ada pengobatan untuk menyembuhkan penyakit ini. Kematian biasanya terjadi beberapa hari setelah terjadinya gejala pertama.

Jika terjadi kasus gigitan oleh hewan yang diduga terinfeksi Rabies atau berpotensi Rabies (anjing, sigung, rakun, rubah, kelelawar) segera cuci luka dengan sabun atau pelarut lemak lain di bawah air mengalir selama 10-15 menit lalu beri antiseptik alkohol 70% atau betadin. Orang-orang yang belum diimunisasi selama 10 tahun terakhir akan diberikan suntikan tetanus.

Orang-orang yang belum pernah mendapat vaksin Rabies akan diberikan suntikan globulin imun Rabies yang dikombinasikan dengan vaksin. Separuh dari dosisnya disuntikkan di tempat gigitan dan separuhnya disuntikan ke otot, biasanya di daerah pinggang. Dalam periode 28 hari diberikan 5 kali suntikan. Suntikan pertama untuk menentukan risiko adanya virus Rabies akibat bekas gigitan. Sisa suntikan diberikan pada hari ke 3, 7, 14, dan 28. Kadang-kadang terjadi rasa sakit, kemerahan, bengkak, atau gatal pada tempat penyuntikan vaksin.

Penanganan Terhadap Hewan Yang Menggigit

Anjing, kucing dan kera yang menggigit manusia atau hewan lainnya harus dicurigai menderita Rabies. Terhadap hewan tersebut harus diambil tindakan sebagai berikut:
  1. Bila hewan tersebut adalah hewan peliharaan atau ada pemiliknya, maka hewan tersebut harus ditangkap dan diserahkan ke Dinas Peternakan setempat untuk diobservasi selama 14 hari. Bila hasil observasi negatif Rabies maka hewan tersebut harus mendapat vaksinasi Rabies sebelum diserahkan kembali kepada pemiliknya.
  2. Bila hewan yang menggigit adalah hewan liar (tidak ada pemiliknya) maka hewan tersebut harus diusahakan ditangkap hidup dan diserahkan kepada Dinas Peternakan setempat untuk diobservasi dan setelah masa observasi selesai hewan tersebut dapat dimusnahkan atau dipelihara oleh orang yang berkenan, setelah terlebih dahulu diberi vaksinasi Rabies.
  3. Bila hewan yang menggigit sulit ditangkap dan terpaksa harus dibunuh, maka hewan tersebut harus diambil dan segera diserahkan ke Dinas Peternakan setempat untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.

Penanganan Terhadap Hewan Peliharaan
  1. Menempatkan hewan peliharaan dalam kandang yang baik dan sesuai dan senantiasa memperhatikan kebersihan kandang dan sekitarnya.
  2. Menjaga kesehatan hewan peliharaan dengan memberikan makanan yang baik, pemeliharaan yang baik dan melaksanakan vaksinasi Rabies secara teratur setiap tahun ke Dinas Peternakan atau Dokter Hewan Praktek.
  3. Memasang rantai pada leher anjing bila anjing tidak dikandangkan atau sedang diajak berjalan-jalan.

Pencegahan
  1. Jadilah pemelihara hewan yang baik.
  2. Selalu ingat untuk memvaksinasi hewan peliharaan seperti anjing, kucing dan kera. Tindakan ini tidak hanya melindungi hewan anda dari penyakit Rabies tetapi juga melindungi diri anda sendiri dan keluarga anda.
  3. Selalu awasi binatang peliharaan anda. Kurangi kontak mereka dengan hewan atau binatang liar. Jika binatang peliharaan anda digigit oleh hewan liar, segera ke dokter hewan untuk diperiksa keadaannya.
  4. Hubungi dinas peternakan setempat bila anda menjumpai ada binatang liar yang mencurigakan di lingkungan tempat tinggal anda.
  5. Hindari kontak dengan hewan liar yang tidak jelas asal usulnya.
  6. Nikmati hewan liar seperti rakun, serigala dari tempat yang jauh. Jangan coba coba memberi mereka makan ataupun membelai mereka.
  7. Jangan sok menjadi penyayang hewan lalu mencoba memelihara hewan liar di rumah walaupun mereka kelihatan sangat jinak.
  8. Cegah kelelawar memasukan rumah atau tempat anda beraktifitas.
  9. Jika anda bepergian ke daerah yang terjangkit Rabies, segeralah ke pusat pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan vaksinasi Rabies.

Kali ini saya akan memberikan penjelasan tentang penyakit unggas CRD atau ngorok/cekrek yang sering menyerang ternak kita khususnya pada ayam broiler. Ayam broiler sangat rentan terhadap penyakit ini karena sistem kekebalan tubuhnya lebih rendah dari unggas lainnya... langsung saja simak ulasannya ...
Penyakit ngorok atau Chronic Respiratory Disease (CRD) komplek adalah penyakit yang populer pada peternakan ayam broiler maupun petelur karena pengobatannya yang sulit dan menyebabkan kerugian yang besar dengan rendahnya pertumbuhan, tingginya FCR, dan tingginya mortalitas (angka kematian).
Ngorok atau CRD merupakan salah satu penyakit yang menyerang saluran pernafasan sehingga kualitas udara harus benar-benar dijaga. Untuk menghindari penyakit ini lingkungan kandang harus bersih segar dan tidak pengap dan tidak lembab, kepadatan kandang harus menjadi perhatian agar sirkulasi udara lancar, suhu kandang dapat menyebabkan berkurangnya nafsu makan, memilih bibit unggul yang sudah terpercaya, menyediakan air minum yang bersih, melakukan biosecurity kandang dan sekitarnya, memberikan suplemen yang mempercepat respon pengobatan.
Salah satu cara mencegah ngorok / cekrek pada ayam anda adalah menghilangkan sumber terjadinya ngorok seperti yang telah diuraikan diatas, ada juga Cara mengatasi penyakit CRD dengan memberikan suplemen untuk meningkatkan imunitas (pertahanan tubuh) untuk melawan infeksi penyakit serta mencegah masuknya penyakit serta mencegah masuknya penyakit lainnya saat kondisi ayam lemah.
Akan tetapi jika kita hanya memfokuskan diri pada upaya pengobatan saja tanpa berusaha mencari sumber masalah maka bersiap-siaplah untuk musibah yang lebih besar yaitu kejadian CRD yang berulang setiap periode pemeliharaan dan resistensi antibiotik. Untuk meningkatkan imunitas unggas yang anda pelihara bisa menggunakan obat-obat yang dijual di pasaran baik alami maupun kimia atau kita meracik sendiri obatnya. Setiap peternak pasti sudah memiliki resep rahasia sendiri-sendiri.
Kelinci yang baru anda beli sering mati bagaimana perawatannya ??? simak ulasannya...

Selamat datang di blog saya, postingan kali ini mengenai Beberapa hal yang perlu anda pahami dalam memelihara kelinci. Bagi sebagian teman-teman saya ataupun anda yang senang memelihara kelinci, ada beberapa hal yang sangat mendasar untuk menjamin kelangsungan hidup dan kesehatan mereka. sehingga kelinci yang anda pelihara tidak mudah mati. Sebenarnya bukan hal yang sulit untuk memulainya karena pada dasarnya ada 3 hal yang perlu diperhatikan yaitu pakan, kandang, dan air minum.

Berikut cara merawat kelinci bagi pemula:
A.    Makanan kelinci
      hal utama yang perlu diperhatikan dalam merawat kelinci adalah makanan, ya makanan... kenapa makanannya??? Karena makanan/pakan merupakan kebutuhan yang perlu dipenuhi oleh seluruh mahluk hidup di bumi ini tidak lain karena nutrisi dalam pakan akan membentuk proses metabolisme dalam tubuh berlangsung baik sehingga berpengaruh pada keberlangsungan hidup kelinci dan kelinci anda pun tidak mudah mati.
Kasus kematian pada kelinci ini sering terjadi. Entah karena terserang penyakit, kesalahan dalam perawatan, ataupun faktor-faktor lingkungan lainnya. Hal tersebut terjadi karena anda  masih pemula atau baru mengenal kelinci.
Dalam hal makanan kelinci, apa sih makanan kelinci??
Kelinci merupakan hewan herbivora atau pemakan tumbuh-tumbuhan, tapi tidak bisa dipungkiri kelinci juga pemakan segalanya (omnivora) tergantung sifat kelinci tersebut. Tumbuhan yang paling disukai oleh kelinci berupa rerumputan ataupun dedaunan, dari sini kita bisa mengetahui apa makanan utama kelinci. Rumput dan daun merupakan makanan utama mereka, namun anda juga bisa memberikan variasi makanan untuk kelinci kesayangan anda. Seperti mencampurkan buah dan sayur, yang mesti anda ingat adalah gula alami yang terkandung dalam buah tidak terlalu baik untuk kelinci anda. Jadi awasi asupan gula alami pada kelinci anda.
Sayuran itu pasti disukai kelinci tapi ingat bukan sayuran segar banyak orang yang mengira bahwa  jika memberi kelinci sayuran segar itu baik, tetapi hal itu adalah salah besar!!! kenapa karena kandungan air didalam sayur segar yang sangat banyak ini bisa membuat kelinci mengalami diare atau mencret dan berujung pada kematian.
Cara yang benar adalah kalian membeli sayuran apapun itu ditukang sayur pagi hari lalu semuanya di jemur atau dilayukan sampai sedikit berwarna kekuningan, setelah layu baru berikan ke kelinci kesayangan anda, karena kadar air sayuran tersebut sudah menurun. Waktu penyediaanya, letakan sayur-sayuran di dalam tempat pakan secukupnya pada jam 08.00 pagi dan sore hari mulai jam 17.00 sampai malam.
Selain sayuran ada juga pakan kelinci yang lain misalkan anda tidak punya waktu untuk menjemur sayur, anda bisa beli pelet khusus untuk kelinci yang banyak tersedia di supermarket atau petshop tapi harganya mahal sekitar 30ribu atau bisa juga pelet ikan paling banter 10 ribu.
B.     Kandang kelinci
      Kandang adalah hal yang sangat penting dalam pememeliharaan kelinci yang dikandangkan (intensif). Fungsi kandang berguna untuk tempat berlindung kelinci dari segala kemungkinan kondisi lingkungan luar yang bisa mengancam kehidupan kelinci seperti penularan penyakit, suhu dingin, terik matahari dan hewan predator.
Kandang kelinci tersebut hendaknya dibuat senyaman mungkin. Anda perlu menyiapkan sebuah kandang baik berbahan kayu maupun besi dengan ukuran tinggi 50 cm dan lebar 50 cm agar kelinci bisa bermain dan berlarian di dalam kandangnya. Ini untuk menjaga agar kelinci tidak stress yang bisa mengakibatkan berbagai gangguan pada kesehatannya. Dalam kandang tersebut, siapkan tempat pakan, tempat minum dan tempat untuk kelinci beristirahat.
Untuk menjaga kesehatan kelinci pastikan kebersihan kandang. Bersihkan kandang dari sisa-sisa pakan yang tercecer dan kotoran (feses) yang menempel pada lantai kandang. Ada baiknya air kencing kelinci ditampung untuk dijadikan pupuk.
C.     Air
      Semua mahluk hidup membutuhkan air, tidak sekedar air, tapi air yang benar-benar terjaga kebersihannya. Taruh mangkuk atau botol berisi air bersih dalam kandangnya, ini untuk menghindarkan kelinci dari bahaya dehidrasi yang bisa mengancam keselamatannya. Ganti air tersebut seminggu dua kali.

Tips cara merawat kelinci ini di kutip dari beberapa sumber serta ditambah lagi dari pengetahuan penulis.
Semoga tips ini bermanfaat ...
Anamnesa
Dilakukan tanya jawab antara dokter hewan dengan pasien atau pengantarnya, sehingga dokter hewan dapat mengarahkan pemeriksaannya pada tujuan-tujuan tertentu dan data yang diperoleh dengan anamnesa dan pemeriksaan fisik itu dapat dipergunakan sebagai dasar yang kuat untuk membuat diagnosa yang tepat. Mengingat adanya kemungkinan bahwa penyakit yang di derita sekarang mungkin akibat penyakit/kelanjutannya dari yang dahulu maka sering ditanyakan pula berbagai penyakit pada masa lalu.

Jikalau ada persangkaan penyakit yang diderita ada hubungannya denga faktor keturunan perlu ditannyakan pula penyakit yang pernah diderita oleh kaum kerabatnya yang lebih tua dimasa lampau. Karena banyak hal yang perlu ditannyakan kepada klien, dokter hewan harus menjaga supaya kegiatan anamnesa tidak bertele-tele dan mengarahkan pertanyaan sehingga tidak ada kemungkinan dari pasien untuk memberi jawabanyang berbelit-belit (Soehardo K, 1987).

Untuk penyakit-penyakit menular atau berbahaya bagi manusia perlu dilakukan anamnesa terarah kepada klien yang meliputi :
- Riwayat sering kontak dengan ternak atau produknya.
- Riwayat kontak dengan ternak sakit.
- Riwayat mengkonsumsi daging ternak sakit.
- Status pekerjaan (Petani ladang, peternak, RPH, peyamak kulit).
- Tidak kalahnya dari kalangan medis adalah mengetahui dimana dia berada, di wilayah endemis atau perbatasan.

Inspeksi
Sebelum melakukan inspeksi, usahakan hewan tidak menaruh curiga kepada pemeriksa dan usahakan agar hewan tenang. Inspeksi atau melihat keadaan pasien dari jarak jauh dan jarak dekat secara menyeluruh dari segala arah serta perhatikan keadaan sekitarnya.

Dilakukan dengan memperhatikan keadaan hewan seperti ekspresi muka, kondisi tubuh, cara dan tipe pernafasan, keadaan abdomen, posisi berdiri, keadaan lubang alami, aksi dan suara.
Selain kegiatan inspeksi seperti diatas perlu juga dilakukan inspeksi jarak dekat terhadap warna kulit, karena selain warna kulit terpengaruh pigmen kulit juga dapat dipengaruhi oleh peredaran darah (PD) di bawahnya. Sebagai contohnya adalah warna kulit yang kemerah-merahan menandakan adanya PD yang giat dibawah kulit. Hewan yang mendadak ketakutan, terkejut, marah, dan sebagainya dikarenakan gangguan syaraf vegetatif (Soehardo K, 1987).

Pulsus dan Nafas
Sistem sirkulasi seekor hewan terdiri dari suatu pompa empat ruang, yaitu jantung, serta suatu sistem pembuluh guna peredaran darah. Pembuluh yang mengedarkan darah dari jantung ke bagian-bagian lain disebut arteri, sedangkan yang membawa darah menuju jantung disebut vena (R.D.Frandson, 1992). Pulsus bersumber pada denyut jantung. Pada pemeriksaan fisik perlu diperhatikan irama dan lajunya dalam semenit serta kualitasnya.

Jikalau irama denyut tidak rata, dikatakan ada pulsus irregularis (Soehardo K, 1987). Pada sapi diperoleh data yaitu 54-84 kali permenit. Pemeriksaan pulsus pada sapi dapat dipalpasi pada : arteria maxillaris externa/a. facialis (raba tepi depan m. Masseter dengan jari dan gerakan kemuka dan kebelakang) atau a. coccygea di sebelah ventral dari pangkal ekor.
Oksigen adalah salah satu dari kebutuhan-kebutuhan yang paling vital. Seekor hewan masih dapat bertahan hidup beberapa hari tanpa air, atau beberapa minggu tanpa makanan, tetapi tanpa oksigen hanya dalam ukuran menit saja. Sistem respirasi terdiri dari paru dan saluran-saluran yang memungkinkan udara dapat mencapai atau meninggalkan paru. Saluran tersebut mencakup nostril (lubang hidung), rongga hidung, farinks, larinks, dan trakea (R.D.Frandson, 1992). Pemeriksaan nafas dengan menghitung frekuensi dan memperhatikan kualitasnnya dengan :
- Melihat kembang kempisnya daerah toraco-abdominal.
- Menempelkan telapak tangan didepan cuping hidung.

Selama respirasi yang relatif tenang, kontraksi diafragma cukup mampu membesarkan toraks. Kontraksi bagian muskular dari diafragma mendorong isi abdomen ke arah kaudal, jadi meningkatkan panjang (volume) toraks. Gerakan respirasi dapat direkam dengan menggunakan alat yang responsif terhadap perubahn tekanan di dalam rongga pleural atau di dalam trakea, contohnya adalah pneumograf, stetograf, atau pletismograf (R.D.Frandson, 1992). Frekuensi nafas normal sapi adalah 20-42 kali per menit.

Suhu Tubuh
Sebelum pemakaian turunkan kolom air raksa di dalam termometer sampai di bawah skala. Pemeriksaan dan perhitungan suhu tubuh dapat dilakukan dengan memasukkan ujung termometer ke lubang anus yang sebelumnya oleskan bahan pelicin pada ujung termometer. Selain itu pengerjaan ini juga dapat dilakukan pada rongga mulut (rongga pipi) apabila ada hal yang meragukan pada lobang anus misalnya radang anus lokal atau anus kendor.
Perhitungan setelah pemasangan termometer selama ± 3 menit. Untuk perlakuan pada rongga mulut perlu diperhatikan adanya evaporasi (penguapan), oleh karena itu perlu penambahan 0.5 ºC. Suhu tubuh normal pada sapi adalah 37,6-39,2 ºC.

Selaput Lendir

-         Conjunctiva
Inspeksi keadaan selaput lendir, apakah terjadi perubahan warna ataukah terdapat lesi disekitarnya. Pada pemeriksaan ini dilakukan dengan melihat conjunctiva palpebrum dengan menggeser ke atas kelopak mata atas dengan ibu jari, kemudian gantikan ibu jari dengan telunjuk dan sedikit ditekan. Perlakuan ini juga berlaku pada kelopak mata bawah.
-         Selaput lendir hidung, mulut dan vulva
Seperti pada pemeriksaan conjunctiva yaitu dengan memperhatikan warna dan kelembaban selaput lendir hidung, mulut, dan vulva dengan membukanya. Pada saat membuka mulut lakukan juga pemeriksaan CRT (Capilary Refil Time/Waktu terisinya kembali kapiler), dengan cara menekan gusi dan melepaskan kembali. Pada saat pemeriksaan CRT hitunglah waktu kembalinnya warna gusi dari putih menjadi merah.
Mata.

Pemeriksaan umum yang terakhir yaitu memperhatikan apakah ada vasa injeksi atau mungkin ada lesi-lesi pada episclera/conjunctiva bulbi. Geser kelopak mata atas dan bawah untuk memudahkan memeriksa cornea, camera oculi anterior, iris, lensa crystalina, retina, dan fundus. Pemeriksaan bola mata dari sebelah muka dan samping.
Dengan cara sepert diatas akan dapat diketahui / dibedakan dimana letak lesi, apakah terletak pada cornea, apakah terletak pada cornea, atau apakah terletak pada bagian sebelah belakang. Dengan alat bantu opthalmoscope dapat dilakukan pemeriksaan retina dan fundus.

Contact Person

AVIAN JAYA FARM
Nama        : AVIAN TRENGGONO
Alamat      : Jl. Sukaraya-sukatani, Bekasi
Email         : aviantrenggono@yahoo.com
Hp              : 082137612234
Facebook : Avian Trenggono
Twitter      : Avian_trg
Website      : ternakapaaja.blogspot.co.id

VISITORS

Flag Counter