Latar Belakang Masalah
Peningkatan
jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun berdampak pada peningkatan
konsumsi produk peternakan (daging, telur, susu). Meningkatnya kesejahteraan
dan tingkat kesadaran masyarakat akan pemenuhan gizi khususnya protein hewani
juga turut meningkatkan angka perminataan produk peternakan. Daging banyak
dimanfaatkan olehmasyarakat karena mempunyai rasayang enak dan kandungan zat
gizi yang tinggi. Salah satu
sumber daging yangpaling banyak dimanfaatkan olehmasyarakat Indonesia adalah
ayam.Daging ayam yang sering dikonsumsi oleh masyarakat diperoleh dari
pemotongan ayam broiler, petelur afkir, dan ayam kampung.
Ayam broiler
merupakan salah satu penyumbang terbesar protein hewani asal ternak dan
merupakan komoditas unggulan.Industri ayam broiler berkembang pesat karena
daging ayam menjadi sumber utama menu konsumen.Daging ayam broiler mudah
didapatkan baik di pasar modern maupun tradisional.Produksi daging ayam broiler
lebih besar dilakukan oleh rumah potong ayam modern dan tradisional.
Daging ayam merupakan daging favorit
di negara kita, karena hampir semua orang indonesia suka makan daging ayam.
Sehingga berbisnis ternak ayam potong merupakan peluang yang sangat bagus untuk
dikembangkan. Permintaan terhadap produk peternakan meningkat setiap tahun
seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk serta meningkatnya pengetahuan dan
kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengkonsumsi pangan yang bergizi.
Tingginya
kewaspadaan masyarakat terhadap keamanan pangan, menuntut produsen bahan pangan
termasuk pengusaha peternakan untuk meningkatkan kualitas produknya. Selain itu
perhitungan ekonomi yang baik sebagai dasar pengembangan usaha peternakan juga
harus sangat di perhatikan, sektor ekonomi yaitu meliputi permodalan,
pembiayaaan serta hasil keuntuuntungan yang di peroleh, keseluruh faktor
tersebut terselenggara dari hulu sampai hilir. Untuk itu perlu ada penerapan manajemen
agribisnis yang baik pada usaha peternakan ayam niaga pedaging agar seluruh
faktor dapat terkelola dan terselenggara dengan baik.
Tujuan
Tujuan
disusunnya makalah ini adalah untuk mempelajari
sistem agribisnis pada peternakan ayam niaga pedaging, yang
berkaitan dengan analisis usaha biaya keseluruhan, meliputi
biaya modal dan biaya produksi serta keuntungan yang diperoleh peternakan ayam
niaga pedaging serta mencari
solusi permasalahannya.
.
1.3 Waktu dan Tempat
Praktikum
manajemen agribisnis peternakan ayam niaga pedaging ini di laksanakan pada hari
Selasa, 19 November 2013. Pukul 14.00 - 15.30 WIB. Bertempat di peternakan milik bapak Karsan,
Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Responden dalam praktikum
agribisnis ini adalah peternakan ayam ras niaga pedaging milik bapak
Karsan
yang ada di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Propinsi Jawa Tengah. Praktikum
ini dilaksanakan
pada 22 Nopember
2013. Dengan jumlah
populasi ternak 5000 - 9000 ekor per periode
produksi. Jumlah populasi
adalah jumlah kepemilikan ternak ayam ras pedaging
(jumlah ayam yang dipelihara) oleh seorang peternak per satu angkatan
pemeliharaan. Model usaha ternak ayam pedaging di Sumbang Kabupaten Banyumas ini adalah secara
kemitraan.
Data dikumpulkan
melalui empat cara yaitu: (1) wawancara langsung, menggunakan kuesioner
terstruktur yang telah disiapkan, (2) Wawancara mendalam menggunakan daftar
pertanyaan terbuka sebagai pedoman wawancara, (3) Observasi untuk melihat
kegiatan maupun hasil kegiatan usaha ayam ras pedaging yang telah biasa
dilakukan oleh peternak (responden) dan (4) dokumentasi.
A. Gambaran Sistem Hulu Agribisnis Peternakan
Sistem hulu agribisnis
peternakan menyangkut kegiatan pengadaan dan penyaluran sarana produksi ternak,
yang pada prinsipnya mencangkup kegiatan : perencanaan dan
pengelolaan dari sarana produksi ternak, teknologi, sumberdaya, agar penyediaan
sarana produksi ternak memenuhi kriteria-kriteria
sebagai berikut :
a.
Tepat
waktu
b.
Tepat
mutu
c.
Tepat
jumlah
d.
Tepat
produk
e.
Tepat
jenis, dan
f.
Harganya terjangkau.
1)
Fungsi
Manajemen
a. perencanaan :
1.
Kegiatan
apa saja : pemeberian pakan
2.
Cara
pembuatan perencanaan : insidental
3.
Tertulis/tidak tertulis
4.
Target
sasaran : pekerja, efisien dan efektivitas
b. pengorganisasian
1.
struktur
organisasi
2.
job
description
: mengontrol, pemasaran, teknisi kandang dan lapangan
3.
hubungan
kerja : kerabat dan keluarga
4.
pengembangan
karyawan : pembinaan berkesinambungan
c. pelaksanaan (
pengarahan dan koordinasi )
1.
sistem
pengarahan : individu
2.
sistem
koordinasi
3.
lain-lain.
d. pengawasan
1.
sistem
pengawasan : oleh pemilik
2.
alat
pengawasan : secara langsung
3.
funishment dan reward :
diberi bonus.
2)
Jenis
usaha ternak : usaha ayam niaga pedaging
a. pengadaan pakan
konsentrat :
jumlah : 0,185 kg/hari/ekor
harga : Rp 6800 – 7000/kg
asal pakan :
o a) buat sendiri o b) beli dari
perusahaan lain þ c)
kemitraan
jika membeli dari
pihak/perusahaan lain bagaimanakah prosedurnya ?
jumlah produk sudah ditentukan oleh
PT, kemudian diberikan secara langsung kepada TS ( anak kandang )
bagaimanakah kelemahan dan
kelebihannya ?
1.
kelemahan
: tidak bisa memformulasikan pakan sesuai dengan kebutuhan ternak
2.
kelebihan
: lebih efisien
b. pengadaan bibit
jenis : strain lokhman
asal
: jakarta
harga
: 6000/ekor
keunggulan
: pertumbuuhan cepat
kelemahan
: daya tahan kurang
c. pengadaan vaksin dan
obat-obatan :
1.
vaksin
: jenis/asal/harga/cara pengadaan :
jenis
: ND, AI, Gumboro
harga
: Rp 40.000/2.000 dosis
2.
obat-obatan
: jenis/asal/harga/cara pengadaan
jenis
: cairan infus Rp 5.000.
d. bangunan :
1.
kandang
:
Jenis kandang
|
Ukuran (m)
|
Jumlah
|
Daya tahan (th)
|
Harga (Rp)
|
Panggung
|
50 x 7
|
1
|
Permanen
|
Rp 70.000.000
|
|
60 x
7
|
1
|
Semi permanen
|
Rp 60.000.000
|
Total
|
750 m2
|
2
|
-
|
Rp.13.000.000
|
Bahan
kandang diperoleh dari : beli disekitar
Ketersediaan
bahan kandang : juga dari lingkungan
2.
perumahan
:
Jenis perumahan
|
Ukuran
|
Jumlah
|
Daya tahan (th)
|
Harga (Rp)
|
Mess
|
-
|
1
|
Semi permanen 5 th
|
-
|
3.
bangunan
lain :
Bangunan
|
Ukuran
|
Jumlah
|
Daya tahan (th)
|
Harga (Rp)
|
Gudang
|
7m x 3m
|
1
|
5
th
|
-
|
B. Gambaran Proses Sistem
Peternakan (On Farm)
kegiatan
ekonomi yang menggunakan sarana produksi yang dihasilkan oleh subsistem
agribisnis hulu untuk menghasilkan produk peternakan primer. Dalam proses ini peternakan ayam
niaga pedaging PT Samsung sebagai plasma yang menggunakan produk dari pihak
perusahaan inti. Dimana plasma menggunakan bibit ayam berupa DOC serta
penggunaan obat-obatan, pakan dan vaksin yang berasal dari kemitraan.
1)
Sistem
perkandangan
Kandang yang digunakan di PT
samsung merupakan tipe kandang panggung dengan bahan baku bambu. Didalam
kandang terdapat sekam, tirai, tempat pakan, tempat minum model nipel. Sekam
berfungsi sebagai penghangat bagi DOC yang berumur 0-7 minggu, untuk tirai
sendiri berfungsi sebagai penghalang ketika cuaca ekstrem. Dalam satu kandang
terdapat 40 tempat pakan dengan kapasitas 1500 ekor/kandang. Pemberian air
minum sudah menggunakan sistem modern dimana petugas tidak harus datang 2 jam
sekali untuk memberikan minum. Lokasi kandang berada di dataran tinggi dengan
keadaan jalan yang kurang kondusif dalam distribusi pakan kedalam farm.
2)
Sistem kesehatan
Perawatan
kesehatan di PT Samsung adalah dengan melakukan vaksinasi rutin. Pemberian vaksin pada umur 5
hari, 13 hari, 15 hari dengan tetes mata dimulai dengan injeksi vaksin ND dan AI.
3)
Pakan
Ternak pada masa starter umur 1-3 minggu diberikan pakan
starter secara adlibitum. sedangkan selelah lewat masa starter 3-5 minggu
diberikan pakan 3 kali sehari pada pagi pukul 05.00 WIB, siang pukul 13.00 WIB,
dan malam pukul 19.00 WIB. Pemberian pakan untuk masing-masing ayam tidak
dibatasi artinya ternak makan sepuasnya. Pakan ini berupa complete feed yang
diambil dari perusahaan inti di jakarta.
C.
Gambaran
Sistem Hilir Agribisnis
Peternakan
Berupa
kegiatan ekonomi yang mengolah produk pertanian primer menjadi produk olahan,
baik produk antara maupun produk akhir, beserta kegiatan perdagangan di pasar domestic. Kegiatan ekonomi ini dilakukan
oleh PT Samsung milik bapak karsan dengan tujuan membesarkan bibit DOC ayam
pedaging yang diperoleh dari perusahaan inti dengan cara mengelola manajemen
peternakan yang meliputi pemberian pakan dan menjaga kesehatan ternak yang
dipelihara agar dapat mencapai produksi yang baik. Kemudian produk akhir dari
peternakan ini berupa ayam broiler final stock dijual lagi ke kemitraan.
D.
Gambaran
Lembaga Penunjang Sistem Agribisnis
Para pelaku
peternakan antara lain pemerintah (dalam hal ini Departemen Pertanian sub
peternakan beserta jajarannya, Direktorat Jenderal Peternakan, Dinas-dinas
Peternakan dll.), Asosiasi-asosiasi Peternakan, Bank, Pengusaha, Peternak,
Perguruan Tinggi dan lain sebagainya yang terkait dengan dunia usaha
peternakan.
Interaksi antar pelaku peternakan dengan lembaga yang
harmonis yaitu pemerintah
berperan sebagai koordinator semua kegiatan peternakan, dimana dalam membuat
kebijakan umum harus melakukan koordinasi dengan seluruh komponen yang terlibat
dalam peternakan. Hal ini diharapkan dapat menghasilkan kebijakan yang
menguntungkan semua pihak.
Implementasi
kesejajaran antara pelaku peternakan di bawah koordinasi pemerintah, sehingga
satu dengan yang lainnya tidak bersifat dominan. Untuk mencapai kesejajaran,
maka peternak harus berada dalam suatu wadah yang kokoh yaitu koperasi mandiri
nasional. Semua elemen
pelaku peternakan secara bebas memberi umpan balik kepada perintah dan dapat
memberi input terhadap elemen lainnya. Pemerintah selain sebagai koordinator,
ia juga sebagai pihak evaluator dan pengontrol pelaksanaan kebijakan di lapangan.
Jadi, untuk menghasilkan interaksi yang harmonis perlu adanya sistem peternakan
yang baik. Dalam konsep
sistem peternakan meliputi proses, struktur dan fungsi. Proses merupakan
pola-pola yang dibuat oleh manusia dalam mengatur hubungan antara satu dengan
lainnya. Dalam sistem peternakan lembaga seperti departemen pertanian,
direktorat jenderal peternakan, asosiasi-asosiasi, birokrasi dll. Tidak
lain adalah proses-proses.
Lembaga-lembaga
ini mempunyai kehidupan masing-masing. Mereka mencerminkan struktur perilaku.
Struktur ini meliputi lembaga-lembaga formal dan informal. Sementara fungsi
adalah membuat keputusan-keputusan yang mengikat seluruh masyarakat seperti
kebijakan umum dan pengalokasian nilai-nilai dalam masyarakat peternakan. Sistem
peternakan ada 4 komponen yang harus diperhatikan yaitu kekuasaan, kepentingan,
kebijakan dan budaya peternakan. Kekuasaan adalah cara untuk mencapai hasil
yang diinginkan dalam alokasi sumber daya di antara kelompok-kelompok dalam
masyarakat. Kepentingan adalah sebagai tujuan-tujuan yang ingin dikejar oleh
pelaku peternakan. Kebijakan sebagai hasil interaksi antara kekuasaan dan
kepentingan, biasanya dalam bentuk undang-undang. Budaya peternakan adalah
sebagai orientasi subjektif individu terhadap sistem peternakan yang berlaku.
Keempat komponen tersebut harus dibangun secara bersama, agar dicapai
kesepakatan yang memuaskan semua pihak yang bergerak di bidang peternakan.
2.2 Pembahasan
Secara konsepsional sistem agribisnis adalah semua aktivitas mulai
dari pengadaan dan penyaluran sarana produksi sampai kepada pemasaran
produk-produk yang dihasilakan oleh usaha tani dan agroindustriyang saling
terkait satu sama lain. Sistem agribisnis merupakan suatu konsep yang
menempatkan kegiatan pertanian sebagai suatu kegiatan yang utuh dan
komprehensif sekaligus sebagai suatu konsep yang dapat menelaah dan
menjawab berbagai masalah dan tantangan.
Pembangunan sistem
agribisnis berbasis peternakan mencakup 4 subsistem yaitu: subsistem agribisnis
hulu peternakan yakni kegiatan ekonomi yang menghasilkan sapronak yang
menggunakan sapronak untuk menghasilkan komoditi peternakan primer; subsistem
agribisnis hilir peternakan yakni kegiatan ekonomi yang mengolah komoditi
peternakan primer menjadi produk olahan dan subsistem jasa penunjang yang
dibutuhkan ketiga subsistem agribisnis yang lain (Saragih, 2001).
Permasalahan tingginya
harga biaya produksi cukup
berat bagi usaha peternakan rakyat yang umumnya memiliki keterbatasan seperti:
skala usaha masih kecil, permodalan lemah, teknologi sederhana dan produksi
berkualitas rendah sehingga peka terhadap guncangan pasar (Suparta, 2001).
Karena itu usaha peternakan rakyat membutuhkan penanganan dengan pola kemitraan
dalam rangka mewujudkan industri peternakan rakyat.
Kemitraan
merupakan strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka
waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling
membutuhkan, saling menguntungkan dan saling menguatkan dengan memperhatikan
tanggung jawab moral dan etika bisnis (Hafsah, 1999).
Banyak perusahaan
swasta yang melakukan hubungan pola kemitraan dengan peternak dalam
pemeliharaan ayam ras pedaging maupun ayam ras petelur. Namun PT Samsung merupakan perusahaan
swasta yang melaksanakan hubungan pola kemitraan dengan peternak dalam
pemeliharaan ayam ras pedaging. PT Samsung dalam menumbuhkan usaha peternakan rakyat melalui
kerjasama pola kemitraan bertindak sebagai inti yang memberikan kredit modal
usaha atau sarana produksi peternakan berupa bibit ayam (DOC), pakan dan
obat-obatan serta membeli kembali hasil produksi dengan sistem harga garansi
atau kontrak. Peternak an milik bapak Karsan sebagai plasma menyediakan
kandang beserta perlengkapannya dan tenaga kerja, serta akan mendapatkan
bimbingan atau PPL
secara rutin dari inti mengenai aspek manajemen seperti sistem perkandangan
yang memenuhi syarat, perlakuan terhadap DOC, penanganan pakan, pemberian pakan
dan air minum, sanitasi dan desinfeksi, vaksinasi serta pengobatan.
Tetapi ketidakdisiplinan antara
kelompok yang bermitra kerja,
karena kurang disiplin dalam mentaati peraturan antara mitra-mitra yang terlibat mengakibatkan konsep
tersebut tidak dijalankan seperti pola kemitraan sesuai dengan aturan yang disepakati
oleh pihak-pihak yang bersangkutan, namun lebih banyak persyaratan ditentukan
oleh inti. Dalam kondisi yang serba terbatas peternak terpaksa menerima apa
yang dipersyaratkan oleh inti, walaupun kerjasama tersebut lebih banyak
menguntungkan inti dibandingkan dengan peternak (Cayati, 1997). Ketidakserasian
hubungan antara inti dan plasma pada praktek kemitraan seringkali terjadi. Pihak
plasma merasa dirugikan karena pihak inti melakukan tindakan sepihak dalam
menentukan harga jual produk, sehingga peternak ayam ras memperoleh margin
keuntungan yang relatif kecil sedangkan inti memperoleh keuntungan yang lebih
besar. Sebaliknya pihak inti sering menganggap pihak plasma kurang professional
mengelola peternakan dan sering melakukan tindakan curang.
Pola kemitraan ayam ras niaga pedaging antara PT Samsung sebagai sapronak
(inti) dengan peternakan milik bapak Karsan (plasma)
di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas mulai dilaksanakan pada tahun 2011. Untuk mengetahui
seberapa besar manfaat finansial yang diperoleh oleh peternak selaku plasma
maka perlu diadakan penelitian tentang kalayakan usaha agribisnis ayam ras
pedaging dengan pola kemitraan tersebut.
ANALISIS EKONOMI SISTEM AGRIBISNIS
3.1 Biaya Tetap Dan Biaya Variabel
A. Biaya variabel
1.
Pengadaan pakan konsentrat :
a. Jumlah = 2590 kg/hr = Rp 6.617.450.000 /thn
b. Harga =
Rp 7000 kg/hari = Rp 6.617.450.000 /thn
2. Biaya
obat-obatan = Rp 5000 /bulan = Rp 1.825.000 /thn
3. Biaya
vaksin = Rp 280.000 /bulan = Rp 102.200.000 /thn
4. Biaya
penerangan = Rp 40.000 /bulan = Rp
14.600.000 /thn
5. Biaya
transportasi = Rp 585.000 /bulan = Rp 7.020.000 /thn
6. Biaya
pemasaran = Rp /bln = Rp /thn
7. Biaya
biosekuriti vaksin AI
= Rp /bulan
3.2
Penerimaan
dan
Pendapatan
A.
Peneriamaan:
1.
Produk Utama : kg/l ; Harga Persatuan: Rp
2.
Produk sampingan :
3.3 Efisiensi Biaya
(R/C)
3.4 Rentabilitas (Re)
3.5 Break Even Point (Bep)
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
4.1
Kesimpulan
1. Usaha
agribisnis ayam ras pedaging pola kemitraan memenuhi kriteria kelayakan. Hal
ini dapat dilihat dari Payback Period selam 4 tahun 11 bulan, Break
Even Point sebanyak 1.888 ekor atau setara dengan Rp.40..929.250,
NPV positif sebesar Rp.59.224.851 dan IRR sebesar 23,58%.
2. Semakin
besar skala usaha (volume pemeliharaan) ayam, keuntungan bersih yang diterima
peternak semakin besar.
3. Analisis
sensitivitas dengan kenaikan biaya produksi 2,5% disertai penurunan pendapatan
2,5% memberikan nilai NPV positif Rp.21.468.025 dengan IRR sebesar 16,79%.
4. Analisis
sensivitas skala usaha dengan mempergunakan metode simulasi rumus-rumus BEP
menunjukkan hal yang paling mungkin dilakukan oleh peternak dalam meningkatkan
keuntungan dari kondisi yang sedang terjadi di lapangan adalah dengan
meningkatkan volume penjualan, sehingga peternak mendapatkan nilai tambah
pendapatan yang optimal
4.2
Rekomendasi
1. Peternak
plasma sebaiknya membuat farm record (cacatan usahatani) secara
teratur, lengkap dan terinci serta terpisah dari kegiatan usaha yang lain
sehingga memudahkan peternak untuk mengetahui kondisi usahanya.
2. Apabila
peternak plasma ingin mendapatkan keuntungan, sebaiknya memelihara ayam dengan
jumlah di atas 1.888 ekor.
3.
Peternak plasma sebaiknya mengadakan komunikasi yang lebih intensif
dengan inti dalam rangka mendapatkan pembagian hasil usaha yang lebih adil.
DAFTAR PUSTAKA
Cayati, M. Ufrani. 1997. Analisis Pendapatan
Usahatani Ayam Broiler di Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem (Skripsi).
Denpasar: Fakultas Peternakan Universitas Udayana.
Hafsah, M. J. 2000. Kemitraan Usaha,
Konsep dan Strategi.Cetakan kedua. Jakarta:Penebar Swadaya.
Saragih. 2001. Agribisnis
Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis pertanian. Kumpulan
Pemikiran, Diedit oleh R. Pambudy, T. Sipayung, J.R.Saragih, Burhanudin dan
Frans D.M.Dabukke. Terbitan Kedua. Yayasan Mulia Persada Indonesia dan PT. Surveyor Indonesia Bekerjasama
dengan Pusat Studi Pembangunan IPB dan USESE Foundation, Bogor.
Suparta, N. 2001. Perilaku Agribisnis
dan Kebutuhan Peternak Ayam Ras Pedaging. Disertasi. Bogor:
Institut Pertanian Bogor.