Selamat datang di blog Cara Beternak dan Budidaya, Silahkan cari artikel yang anda butuhkan dengan mengetikan keyword di kotak pencarian
Hasil pencarian
Hasil pencarian
Pemeliharaan ayam pedaging bertujuan untuk menghasilkan daging. ayam broiler mengkonsumsi pakan untuk di konversikan menjadi daging atau dalam kata lain ayam pedaging adalah pabrik daging. Sebenarnya apa saja yang menjadi kunci keberhasilan pemeliharaan ayam pedaging. kunci keberhasilan dalam pemeliharaan ini adalah manajemen peternakan yang baik (good farming praktis), dimana seorang peternak mengetahui kondisi apa yang dibutuhkan ayam sehingga ayam menjadi nyaman, sehat dan berproduksi optimal.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan ayam pedaging adalah target pencapaian yang akan diperoleh dan tentu saja didukung dengan faktor produksi yang baik (lingkungan dan genetik). Setiap usaha yang kita kerjakan memiliki target dan tujuan begitu juga dengan pemeliharaan ayam tipe pedaging. tujuan disini adalah bagaimana ayam dapat mencapai target pertambahan bobot badan sekian pada umur sekian, lalu bagaimana caranya??

Sebagai peternak yang kita perlukan adalah rekording (pencatatan) dan pedoman standar pemeliharaan. Dengan selalu memperhatikan dua hal diatas kita akan tahu apakah ayam yang kita pelihara sukses atau tidak. Kemudian setelah itu barulah kita lakukan evaluasi. Kunci keberhasilan pemeliharaan ayam broiler adalah apabila populasi ayam dalam suatu kandang memiliki tingkat keseragaman yang sama yaitu lebih dari 80% (mencapai standar dari breeder).

Bobot badan telah mencapai standar dapat diketahui dari tingkat keseragamannya (uniformity). Tingkat keseragaman dihitung berdasarkan jumlah ayam dengan bobot tubuh ± 10% dari bobot rata-rata jumlah populasi. 

Misal :
Populasi ayam di kandang sebanyak 1000 ekor
Bobot Timbang umur 32 hari adalah 1,74 kg

Keseragaman
= Bobot timbang rata-rata (±10%) 
= 1,74 kg x 10% 
= 0,174 gram

Keseragaman   = 1,74 kg – 0,174
                         = 1,566 kg

Dari 1000 ekor ayam yang dipelihara ternyata hanya 850 ekor yang bobotnya sudah mencapai target bahkan lebih. Sedangkan sisanya masih dibawah standar. jadi dapat dihitung persentase keseragamannya, sebagai berikut :
= 850 / 1000 x 100 %
= 85 %

Jadi tingkat keseragamannya 85%, menurut Medion (2008) pertumbuhan yang merata menjadi salah satu indikator ayam memiliki performan produktivitas yang baik. Tingkat keseragaman atau uniformity yang baik dalam 1 populasi ayam ialah > 85%. Keseragaman yang baik ini juga menggambarkan tata laksana pemeliharaannya telah diterapkan dengan bagus.



Hal yang harus dilakukan selanjutnya pada ayam yang belum mencapai target (bobot dibawah rata-rata) dimasukan ke kandang karantina dan dipisahkan menggunakan sekat kemudian diberi pakan starter untuk memacu pertumbuhannya.

Semoga bermanfaat... 

Daftar Pustaka
Medion. 2008. Konsultasi Pertumbuhan Tidak Merata. http://info.medion.co.id.
pengalaman beternak ayam
Mesin tetas sederhana
Setelah beberapa waktu tidak menulis blog lagi berhubung banyaknya pekerjaan yang sedang saya jalani dan sibuk mengerjakan tugas kuliah. Kali ini saya akan flashback ke masa lalu tentang apa saja pengalaman yang pernah saya alami dalam bidang beternak ayam kampung. tujuan tulisan ini hanya untuk berbagi pada anda yang ingin memulai usaha dibidang peternakan khususnya ayam kampung.

Mengapa ayam kampung??



Alasan yang mengapa ayam kampung berpotensi untuk dibudidayakan adalah karena:

1. ayam kampung mudah dipelihara
2. harga jual lebih tinggi dari ayam ras pedaging maupun ayam ras petelur afkir
3. tidak membutuhkan modal yang besar
4. dapat di ternakan dalam lokasi/lahan sempit
5. lebih tahan terhadap serangan penyakit.
6. prospek usaha yang menjanjikan
7. dan hal yang utama adalah daging ayam kampung yang mempunyai rasa dan tekstur yang khas

ini pengalaman saya saat memulai terjun di bidang perayaman. pada waktu itu saat saya masih duduk di kelas 2 SMA mencoba fokus untuk beternak ayam seusai pulang sekolah. sebelumnya kesukaan saya beternak ayam kampung ini karena awalnya ibu saya yang memelihara beberapa induk ayam dan seekor ayam pejantan.

indukan ayam tersebut dipelihara hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan saat lebaran dan sebagai bahan hidangan makanan ketika ada keluarga yang berkunjung kerumah, pakan yang diberikan pun hanya sekedar nasi sisa lauk-pauk keluarga saya dan terkadang mengais-ngais pakan di lingkungan rumah karena ayam saya ini dipelihara dengan cara ekstensif (diumbar/dilepaskan dialam). saat sore ayam pulang kerumah masuk ke kandang untuk tidur dan pagi harinya ibu saya membuka pintu kandang dan berkeliaran lah mereka mencari makan.

kandang yang digunakan pun hanya memanfaatkan ruang kosong yang letaknya di sudut rumah sekaligus dipakai sebagai gudang. kandang ayam dari bambu saya buat yang tujuannya agar ayam tersebut nyaman. terkadang ayam tidur didalam karung karena dahulu belum tersedia kandang. sampai kira-kira ayam saya saat itu berjumlah kurang lebih 80 ekor selama 1 tahun dari beberapa indukan yang ibu saya punya. tujuan saya memelihara ayam hanya sekedar memanfaatkan makanan sisa keluarga yang terbuang percuma dan tidak berniat untuk menjualnya dan memenuhi konsumsi protein hewani keluarga saya.

beternak ayam kampung memang mudah seperti beberapa alasan yang sudah saya paparkan di atas. sampai pada akhirnya saya lulus sekolah dan melanjutkan sekolah di fakultas peternakan di salah satu universitas di jawa tengah. disana baru terfikir poin nomor 2 dan 6 yaitu harga jual yang lebih tinggi dibanding ayam ras dan prospek kedepan yang bagus.

di beberapa daerah di indonesia masih kekurangan stok ayam kampung terutama saat hari raya tiba, pemenuhan kebutuhan terhadap ayam kampung hanya dari peternak-peternak rumahan skala kecil (1-10 ekor). saya rasa mengapa tidak kita pelihara ayam kampung dalam jumlah besar dan tentu saja keuntungan yang diperoleh juga akan besar. hal ini juga diimbangi oleh ketersediaan limbah pertanian yang melimpah sehingga tidak sulit untuk memulai usaha peternakan ayam kampung.

sekian pengalaman saya semoga menjadi acuan dan motifasi berwirausaha di bidang ternak unggas.
Naiknya harga bahan bakar minyak turut berimbas pada harga bahan pakan ternak. misalnya saja sekarang di wilayah banyumas jawa tengah harga konsentrat ayam pedaging, Terutama bahan baku impor. Terlebih lagi dengan naiknya permintaan pasar internasional dan pemakaian sebagian bahan baku pakan untuk memproduksi energi maka harganya pun menjadi semakin mahal. Pengaruh kenaikan harga bahan bakar minyak terhadap biaya transport juga semakin mahal. sehingga, akan sangat berpengaruh terhadap harga pokok produksi telur. 
Harga pokok produksi merupakan puncak dari berbagai variabel kegiatan manajemen peternakan ayam petelur. Komponen-komponen pembentuk harga pokok produksi telur: (1) pakan, (2) biaya operasional (upah, bahan bakar minyak, listrik, transportasi), (3) penyusutan pullet (ayam dara sampai dengan umur 19 minggu), (4) penyusutan investasi infrastruktur (kandang, gudang pakan dan telur, mess, kantor, listrik, jalan dll), (5) biaya penjualan (6) obat, vaksin, vitamin dan kimia, dan (7) biaya lain-lain. 

Komponen pembentuk harga pokok produksi telur: 

1. PAKAN 
Harga pakan jadi/komplit buatan pabrik di Jawa Timur yang berlaku saat ini, per 1 Desember 2014, rata-rata Rp 4.500,-/kg. Ditambah biaya kirim ke kandang dengan jarak 100 km dan upah menurunkan, lebih kurang Rp 100,-/kg. Jadi, harga pakan, sampai dimakan ayam, menjadi Rp 4.100,-/kg. Dikalikan FCR (Feed Conversion Ratio) total populasi ayam petelur yang berproduksi, umur 20 s/d 80 minggu, atau sampai afkir rata-rata 2.30, maka biaya pakan Rp 10.350,-/kg. 

2. BIAYA OPERASIONAL 
Biaya operasional adalah semua biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan peternakan ayam petelur untuk berproduksi, meliputi listrik, telepon, air, upah/gaji tenaga kerja, perawatan, material-material, sosial, kesehatan, pengamanan, transportasi, bahan bakar minyak dan lain-lain. Antara satu peternakan dengan peternakan yang lain tentu saja berbeda. Tergantung dari sistem manajemen perkandangan yang digunakan, cara pemberian pakan dan minum, apakah manual, semi-otomatis atau otomatis. Menurut pengalaman peternak di Jawa Timur, dengan cara pemberian pakan dan minum secara manual, biaya operasionalnya lebih kurang Rp 2.000,-/kg. Bila semi-otomatis atau otomatis, biayanya bisa lebih murah Rp 100 – 200,-/kg. 

3. PENYUSUTAN PULLET 
Pullet adalah ayam dara yang telah melalui masa awal dan pertumbuhan sampai dengan umur 153 hari (umur 22 minggu) sudah mulai bertelur, sampai berproduksi Hen Day 60%, pada saat itu layer sudah bisa membiayai makanannya dari hasil produksi telurnya. Sedangkan yang dimaksud layer adalah ayam petelur umur 154 hari (umur 23 minggu) s/d 80 minggu atau lebih, sampai diafkir. Dengan harga anak ayam, pakan, biaya operasional, vaksin, vitamin, kimia dan lain-lain yang berlaku saat ini, per 1 Desember 2014, harga pullet sampai dengan umur 153 hari, lebih kurang Rp 65.000,-/ekor. 
Ayam layer diafkir pada umur 80 minggu atau lebih, harga di Jawa Tengah rata-rata hanya Rp 15.000,-/kg. Bobot badan rata-rata 1,9 kg/ekor = Rp 28.500,-/ekor. Sedangkan sisa hidup saat diafkir pada umur 80 minggu atau lebih, rata-rata 15,0%. Jadi, pendapatan dari ayam afkir Rp 28.500,- x 85% = Rp 24.225,-/ekor. Nilai penyusutan pullet adalah harga awal masa produksi, dikurangi pendapatan afkir, sisa Rp 40.775,-/ekor, dibagi pendapatan telur dalam 1 (satu) periode s/d umur 80 minggu, rata-rata 20 kg telur/ekor/periode = Rp 2.039,-/kg telur. 

4. BIAYA PENYUSUTAN INVESTASI KANDANG DAN INFRA STRUKTUR 
Beban biaya penyusutan investasi kandang dan infra-struktur penunjang, tidak termasuk nilai lahan. Lahan nilainya tidak menyusut, malah akan naik terus dari waktu ke waktu. Kandang dan infra-struktur penunjang yang sudah ada saat ini, pada umumnya dibuat 3 – 10 tahun yang lalu dengan nilai rata-rata Rp 60.000,-/ekor. Hampir tidak ada investasi kandang baru dalam 3 (tiga) tahun terakhir. Dengan perhitungan masa pakai bisa 10 tahun ( 7 periode), maka nilai penyusutan investasi awal sama dengan Rp 60.000 : 7 periode : 20 kg telur per periode, Rp 500,-/kg. 
Belum lagi tingginya rasio upah tenaga kerja akibat rendahnya produktifitas layer yang sudah tua, yang sebenarnya sudah tidak layak “pakai”. Kualitas telur jadi menurun, resikonya banyak keluhan dari pelanggan telur. Persentase telur retak dan pecah meningkat. FCR ayam tua juga sangat jelek, lebih dari 2,5. Akibatnya, pemanfaatan investasi kandang dan infrastruktur menjadi kurang ekonomis. Ini sebagai bahan renungan bagi Anda, para peternak petelur. 

5. BIAYA PENJUALAN 
Setelah telur diproduksi, masih ada biaya yang harus dikeluarkan untuk menjualnya walaupun dijual di tempat/di kandang atau gudang telur. Biaya-biaya itu meliputi telepon, listrik, susut bobot, retak, pecah, upah tenaga kerja, kemasan (peti kayu, egg tray, tali, label dan lain-lain). Rata-rata biaya penjualan Rp 300,-/kg. 

6. OBAT-OBATAN, VAKSIN DAN KIMIA (O.V.K.) 
Perusahaan peternakan ayam petelur, karena mengelola makhluk hidup, memerlukan obat-obatan (antibiotik, obat cacing), vaksin (vaksin mati dan vaksin hidup) dan kimia (desinfektan, insektisida, vitamin) supaya ayam tetap sehat dan berproduksi secara optimal. Vaksinasi terhadap beberapa penyakit harus diulang berkala, obat cacing perlu diulang berkala, pemberantasan hama lalat dan kutu, bio-sekuriti dan vitamin juga harus diberikan secara berkala. Total biaya OVK bila dirata-rata tidak kurang dari Rp 500,-/kg. 

7. BIAYA LAIN-LAIN 
Dalam perjalanan suatu perusahaan, tidak terlepas dari hal-hal yang terjadi di luar perkiraan atau tak terduga. Biasanya menyangkut biaya sosial, kesehatan karyawan, keamanan, kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan kerja. Maka, perlu dicadangkan biaya tak terduga, diperkirakan rata-ratanya perlu anggaran sebesar Rp 100,-/kg. 
Catatan : dalam pembahasan ini diasumsikan semua biaya investasi dari “kantong” sendiri. Dianggap tidak pakai uang bank. Maka, tidak ada biaya bunga dan angsuran hutang ke bank. Istilahnya, pakai “uang dingin”, bukan “uang panas”. 

Rangkuman biaya-biaya :
1. Pakan= Rp 10.350,- (72.65%)
2. Biaya operasional = Rp 2.000,- (  7.70%) 
3. Pullet = Rp 2.039,- (10.92%)
4. Investasi kandang dan infrastruktur = Rp     500,- (  2.75%)
5. Penjualan telur dan ayam afkir = Rp     300,- (  1.92%)
6. Obat, vaksin dan kimia = Rp    500,- (  3.47%)
7. Biya tak terduga = Rp       100,-  (  0.58%)
 
Total ………… Rp 15.789,- (100.00%)

Berikutnya, supaya gampang menghitung secara cepat, rasio harga pokok produksi (= R.H.P.P.), yaitu harga pokok produksi telur Rp 12.979 : harga pakan Rp 4.000,-/kg = 3,24. 
RUMUS 
HPP TELUR = HARGA PAKAN x 3.24 
Kalau toh ada selisih hitungan secara akunting, bisa dipastikan tidak akan banyak, +/- Rp 200,-/kg. 

Latar Belakang Masalah
Peningkatan jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun berdampak pada peningkatan konsumsi produk peternakan (daging, telur, susu). Meningkatnya kesejahteraan dan tingkat kesadaran masyarakat akan pemenuhan gizi khususnya protein hewani juga turut meningkatkan angka perminataan produk peternakan. Daging banyak dimanfaatkan olehmasyarakat karena mempunyai rasayang enak dan kandungan zat gizi yang tinggi. Salah satu sumber daging yangpaling banyak dimanfaatkan olehmasyarakat Indonesia adalah ayam.Daging ayam yang sering dikonsumsi oleh masyarakat diperoleh dari pemotongan ayam broiler, petelur afkir, dan ayam kampung.
Ayam broiler merupakan salah satu penyumbang terbesar protein hewani asal ternak dan merupakan komoditas unggulan.Industri ayam broiler berkembang pesat karena daging ayam menjadi sumber utama menu konsumen.Daging ayam broiler mudah didapatkan baik di pasar modern maupun tradisional.Produksi daging ayam broiler lebih besar dilakukan oleh rumah potong ayam modern dan tradisional.
Daging ayam merupakan daging favorit di negara kita, karena hampir semua orang indonesia suka makan daging ayam. Sehingga berbisnis ternak ayam potong merupakan peluang yang sangat bagus untuk dikembangkan. Permintaan terhadap produk peternakan meningkat setiap tahun seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk serta meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengkonsumsi pangan yang bergizi.
Tingginya kewaspadaan masyarakat terhadap keamanan pangan, menuntut produsen bahan pangan termasuk pengusaha peternakan untuk meningkatkan kualitas produknya. Selain itu perhitungan ekonomi yang baik sebagai dasar pengembangan usaha peternakan juga harus sangat di perhatikan, sektor ekonomi yaitu meliputi permodalan, pembiayaaan serta hasil keuntuuntungan yang di peroleh, keseluruh faktor tersebut terselenggara dari hulu sampai hilir.    Untuk itu perlu ada penerapan manajemen agribisnis yang baik pada usaha peternakan ayam niaga pedaging agar seluruh faktor dapat terkelola dan terselenggara dengan baik.

Tujuan
Tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk mempelajari sistem agribisnis pada peternakan ayam niaga pedaging, yang berkaitan dengan analisis usaha biaya keseluruhan, meliputi biaya modal dan biaya produksi serta keuntungan yang diperoleh peternakan ayam niaga pedaging serta mencari solusi permasalahannya.
.
1.3   Waktu dan Tempat
Praktikum manajemen agribisnis peternakan ayam niaga pedaging ini di laksanakan pada hari Selasa, 19 November 2013. Pukul 14.00 - 15.30 WIB. Bertempat di peternakan milik bapak Karsan, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas.

 
HASIL DAN PEMBAHASAN

 Hasil

Responden dalam praktikum agribisnis  ini adalah peternakan ayam ras niaga pedaging milik bapak Karsan yang ada di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Propinsi Jawa Tengah. Praktikum ini dilaksanakan pada 22 Nopember 2013. Dengan jumlah populasi ternak 5000 - 9000 ekor per periode produksi. Jumlah populasi adalah jumlah kepemilikan ternak ayam ras pedaging (jumlah ayam yang dipelihara) oleh seorang peternak per satu angkatan pemeliharaan. Model usaha ternak ayam pedaging di Sumbang Kabupaten Banyumas ini adalah secara kemitraan.
Data dikumpulkan melalui empat cara yaitu: (1) wawancara langsung, menggunakan kuesioner terstruktur yang telah disiapkan, (2) Wawancara mendalam menggunakan daftar pertanyaan terbuka sebagai pedoman wawancara, (3) Observasi untuk melihat kegiatan maupun hasil kegiatan usaha ayam ras pedaging yang telah biasa dilakukan oleh peternak (responden) dan (4) dokumentasi.

A.  Gambaran Sistem Hulu Agribisnis Peternakan
Sistem hulu agribisnis peternakan menyangkut kegiatan pengadaan dan penyaluran sarana produksi ternak, yang pada prinsipnya mencangkup kegiatan : perencanaan dan pengelolaan dari sarana produksi ternak, teknologi, sumberdaya, agar penyediaan sarana produksi ternak memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut :
a.       Tepat waktu
b.      Tepat mutu
c.       Tepat jumlah
d.      Tepat produk
e.       Tepat jenis, dan
f.       Harganya terjangkau.

1)        Fungsi Manajemen
a.       perencanaan :
1.      Kegiatan apa saja : pemeberian pakan
2.      Cara pembuatan perencanaan : insidental
3.      Tertulis/tidak tertulis
4.      Target sasaran : pekerja, efisien dan efektivitas
b.      pengorganisasian
1.      struktur organisasi
2.      job description : mengontrol, pemasaran, teknisi kandang dan lapangan
3.      hubungan kerja : kerabat dan keluarga
4.      pengembangan karyawan : pembinaan berkesinambungan
c.       pelaksanaan ( pengarahan dan koordinasi )
1.      sistem pengarahan : individu
2.      sistem koordinasi
3.      lain-lain.
d.      pengawasan
1.      sistem pengawasan : oleh pemilik
2.      alat pengawasan : secara langsung
3.      funishment dan reward : diberi bonus.

2)        Jenis usaha ternak : usaha ayam niaga pedaging
a.       pengadaan pakan konsentrat :
jumlah : 0,185 kg/hari/ekor
harga : Rp 6800 – 7000/kg
asal pakan :  
o a) buat sendiri            o b) beli dari perusahaan lain            Ã¾ c) kemitraan
jika membeli dari pihak/perusahaan lain bagaimanakah prosedurnya ?
jumlah produk sudah ditentukan oleh PT, kemudian diberikan secara langsung kepada TS ( anak kandang )
bagaimanakah kelemahan dan kelebihannya ?
1.    kelemahan : tidak bisa memformulasikan pakan sesuai dengan kebutuhan ternak
2.    kelebihan : lebih efisien

b.      pengadaan bibit
jenis : strain lokhman
asal : jakarta
harga : 6000/ekor
keunggulan : pertumbuuhan cepat
kelemahan : daya tahan kurang

c.       pengadaan vaksin dan obat-obatan :
1.      vaksin : jenis/asal/harga/cara pengadaan :
jenis : ND, AI, Gumboro
harga : Rp 40.000/2.000 dosis
2.      obat-obatan : jenis/asal/harga/cara pengadaan
jenis : cairan infus Rp 5.000.
d.      bangunan :
1.      kandang :
Jenis kandang
Ukuran (m)
Jumlah
Daya tahan (th)
Harga (Rp)
Panggung
50 x 7
1
Permanen
Rp 70.000.000

60 x 7
1
Semi permanen
Rp 60.000.000
Total
750 m2
2
-
Rp.13.000.000

            Bahan kandang diperoleh dari : beli disekitar
            Ketersediaan bahan kandang : juga dari lingkungan

2.      perumahan :
Jenis perumahan
Ukuran
Jumlah
Daya tahan (th)
Harga (Rp)
Mess
-
1
Semi permanen 5 th
-

3.      bangunan lain :
Bangunan
Ukuran
Jumlah
Daya tahan (th)
Harga (Rp)
Gudang
7m x 3m
1
5        th
-

B.  Gambaran Proses Sistem Peternakan (On Farm)
kegiatan ekonomi yang menggunakan sarana produksi yang dihasilkan oleh subsistem agribisnis hulu untuk menghasilkan produk peternakan primer. Dalam proses ini peternakan ayam niaga pedaging PT Samsung sebagai plasma yang menggunakan produk dari pihak perusahaan inti. Dimana plasma menggunakan bibit ayam berupa DOC serta penggunaan obat-obatan, pakan dan vaksin yang berasal dari kemitraan.

1)      Sistem perkandangan
Kandang yang digunakan di PT samsung merupakan tipe kandang panggung dengan bahan baku bambu. Didalam kandang terdapat sekam, tirai, tempat pakan, tempat minum model nipel. Sekam berfungsi sebagai penghangat bagi DOC yang berumur 0-7 minggu, untuk tirai sendiri berfungsi sebagai penghalang ketika cuaca ekstrem. Dalam satu kandang terdapat 40 tempat pakan dengan kapasitas 1500 ekor/kandang. Pemberian air minum sudah menggunakan sistem modern dimana petugas tidak harus datang 2 jam sekali untuk memberikan minum. Lokasi kandang berada di dataran tinggi dengan keadaan jalan yang kurang kondusif dalam distribusi pakan kedalam farm.

2)      Sistem  kesehatan
Perawatan kesehatan di PT Samsung adalah dengan melakukan vaksinasi rutin. Pemberian vaksin pada umur 5 hari, 13 hari, 15 hari dengan tetes mata dimulai dengan injeksi  vaksin ND dan AI.

3)      Pakan
Ternak pada masa starter umur 1-3 minggu diberikan pakan starter secara adlibitum. sedangkan selelah lewat masa starter 3-5 minggu diberikan pakan 3 kali sehari pada pagi pukul 05.00 WIB, siang pukul 13.00 WIB, dan malam pukul 19.00 WIB. Pemberian pakan untuk masing-masing ayam tidak dibatasi artinya ternak makan sepuasnya. Pakan ini berupa complete feed yang diambil dari perusahaan inti di jakarta.

C.       Gambaran Sistem Hilir Agribisnis Peternakan

Berupa kegiatan ekonomi yang mengolah produk pertanian primer menjadi produk olahan, baik produk antara maupun produk akhir, beserta kegiatan perdagangan di pasar domestic. Kegiatan ekonomi ini dilakukan oleh PT Samsung milik bapak karsan dengan tujuan membesarkan bibit DOC ayam pedaging yang diperoleh dari perusahaan inti dengan cara mengelola manajemen peternakan yang meliputi pemberian pakan dan menjaga kesehatan ternak yang dipelihara agar dapat mencapai produksi yang baik. Kemudian produk akhir dari peternakan ini berupa ayam broiler final stock dijual lagi ke kemitraan.

D.       Gambaran Lembaga Penunjang Sistem Agribisnis

Para pelaku peternakan antara lain pemerintah (dalam hal ini Departemen Pertanian sub peternakan beserta jajarannya, Direktorat Jenderal Peternakan, Dinas-dinas Peternakan dll.), Asosiasi-asosiasi Peternakan, Bank, Pengusaha, Peternak, Perguruan Tinggi dan lain sebagainya yang terkait dengan dunia usaha peternakan.
Interaksi antar pelaku peternakan
dengan lembaga yang harmonis yaitu pemerintah berperan sebagai koordinator semua kegiatan peternakan, dimana dalam membuat kebijakan umum harus melakukan koordinasi dengan seluruh komponen yang terlibat dalam peternakan. Hal ini diharapkan dapat menghasilkan kebijakan yang menguntungkan semua pihak.
Implementasi kesejajaran antara pelaku peternakan di bawah koordinasi pemerintah, sehingga satu dengan yang lainnya tidak bersifat dominan. Untuk mencapai kesejajaran, maka peternak harus berada dalam suatu wadah yang kokoh yaitu koperasi mandiri nasional. Semua elemen pelaku peternakan secara bebas memberi umpan balik kepada perintah dan dapat memberi input terhadap elemen lainnya. Pemerintah selain sebagai koordinator, ia juga sebagai pihak evaluator dan pengontrol pelaksanaan kebijakan di lapangan. Jadi, untuk menghasilkan interaksi yang harmonis perlu adanya sistem peternakan yang baik. Dalam konsep sistem peternakan meliputi proses, struktur dan fungsi. Proses merupakan pola-pola yang dibuat oleh manusia dalam mengatur hubungan antara satu dengan lainnya. Dalam sistem peternakan lembaga seperti departemen pertanian, direktorat jenderal peternakan, asosiasi-asosiasi, birokrasi dll. Tidak lain adalah proses-proses.
Lembaga-lembaga ini mempunyai kehidupan masing-masing. Mereka mencerminkan struktur perilaku. Struktur ini meliputi lembaga-lembaga formal dan informal. Sementara fungsi adalah membuat keputusan-keputusan yang mengikat seluruh masyarakat seperti kebijakan umum dan pengalokasian nilai-nilai dalam masyarakat peternakan. Sistem peternakan ada 4 komponen yang harus diperhatikan yaitu kekuasaan, kepentingan, kebijakan dan budaya peternakan. Kekuasaan adalah cara untuk mencapai hasil yang diinginkan dalam alokasi sumber daya di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Kepentingan adalah sebagai tujuan-tujuan yang ingin dikejar oleh pelaku peternakan. Kebijakan sebagai hasil interaksi antara kekuasaan dan kepentingan, biasanya dalam bentuk undang-undang. Budaya peternakan adalah sebagai orientasi subjektif individu terhadap sistem peternakan yang berlaku. Keempat komponen tersebut harus dibangun secara bersama, agar dicapai kesepakatan yang memuaskan semua pihak yang bergerak di bidang peternakan.


2.2    Pembahasan

Secara konsepsional sistem agribisnis adalah semua aktivitas mulai dari pengadaan dan penyaluran sarana produksi sampai kepada pemasaran produk-produk yang dihasilakan oleh usaha tani dan agroindustriyang saling terkait satu sama lain. Sistem agribisnis merupakan suatu konsep yang menempatkan kegiatan pertanian sebagai suatu kegiatan yang utuh dan komprehensif  sekaligus sebagai suatu konsep yang dapat menelaah dan menjawab berbagai masalah dan tantangan. 
Pembangunan sistem agribisnis berbasis peternakan mencakup 4 subsistem yaitu: subsistem agribisnis hulu peternakan yakni kegiatan ekonomi yang menghasilkan sapronak yang menggunakan sapronak untuk menghasilkan komoditi peternakan primer; subsistem agribisnis hilir peternakan yakni kegiatan ekonomi yang mengolah komoditi peternakan primer menjadi produk olahan dan subsistem jasa penunjang yang dibutuhkan ketiga subsistem agribisnis yang lain (Saragih, 2001).
Permasalahan tingginya harga biaya produksi cukup berat bagi usaha peternakan rakyat yang umumnya memiliki keterbatasan seperti: skala usaha masih kecil, permodalan lemah, teknologi sederhana dan produksi berkualitas rendah sehingga peka terhadap guncangan pasar (Suparta, 2001). Karena itu usaha peternakan rakyat membutuhkan penanganan dengan pola kemitraan dalam rangka mewujudkan industri peternakan rakyat.
            Kemitraan merupakan strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan, saling menguntungkan dan saling menguatkan dengan memperhatikan tanggung jawab moral dan etika bisnis (Hafsah, 1999).
Banyak perusahaan swasta yang melakukan hubungan pola kemitraan dengan peternak dalam pemeliharaan ayam ras pedaging maupun ayam ras petelur. Namun PT Samsung merupakan perusahaan swasta yang melaksanakan hubungan pola kemitraan dengan peternak dalam pemeliharaan ayam ras pedaging. PT Samsung dalam menumbuhkan usaha peternakan rakyat melalui kerjasama pola kemitraan bertindak sebagai inti yang memberikan kredit modal usaha atau sarana produksi peternakan berupa bibit ayam (DOC), pakan dan obat-obatan serta membeli kembali hasil produksi dengan sistem harga garansi atau kontrak. Peternak an milik bapak Karsan sebagai plasma menyediakan kandang beserta perlengkapannya dan tenaga kerja, serta akan mendapatkan bimbingan atau PPL secara rutin dari inti mengenai aspek manajemen seperti sistem perkandangan yang memenuhi syarat, perlakuan terhadap DOC, penanganan pakan, pemberian pakan dan air minum, sanitasi dan desinfeksi, vaksinasi serta pengobatan.
Tetapi ketidakdisiplinan antara kelompok yang bermitra kerja, karena kurang disiplin dalam mentaati peraturan antara mitra-mitra yang terlibat mengakibatkan konsep tersebut tidak dijalankan seperti pola kemitraan sesuai dengan aturan yang disepakati oleh pihak-pihak yang bersangkutan, namun lebih banyak persyaratan ditentukan oleh inti. Dalam kondisi yang serba terbatas peternak terpaksa menerima apa yang dipersyaratkan oleh inti, walaupun kerjasama tersebut lebih banyak menguntungkan inti dibandingkan dengan peternak (Cayati, 1997). Ketidakserasian hubungan antara inti dan plasma pada praktek kemitraan seringkali terjadi. Pihak plasma merasa dirugikan karena pihak inti melakukan tindakan sepihak dalam menentukan harga jual produk, sehingga peternak ayam ras memperoleh margin keuntungan yang relatif kecil sedangkan inti memperoleh keuntungan yang lebih besar. Sebaliknya pihak inti sering menganggap pihak plasma kurang professional mengelola peternakan dan sering melakukan tindakan curang.
            Pola kemitraan ayam ras niaga pedaging antara PT Samsung sebagai sapronak (inti) dengan peternakan milik bapak Karsan (plasma) di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas mulai dilaksanakan pada tahun 2011. Untuk mengetahui seberapa besar manfaat finansial yang diperoleh oleh peternak selaku plasma maka perlu diadakan penelitian tentang kalayakan usaha agribisnis ayam ras pedaging dengan pola kemitraan tersebut.
  

ANALISIS EKONOMI SISTEM AGRIBISNIS


3.1 Biaya Tetap Dan Biaya Variabel

A.  Biaya variabel
1. Pengadaan pakan konsentrat :
     a. Jumlah     = 2590 kg/hr                = Rp 6.617.450.000 /thn
     b. Harga      = Rp 7000 kg/hari        = Rp 6.617.450.000 /thn
2. Biaya obat-obatan    = Rp 5000 /bulan         = Rp 1.825.000 /thn
3. Biaya vaksin                        = Rp 280.000 /bulan    = Rp 102.200.000 /thn
4. Biaya penerangan    = Rp 40.000 /bulan      = Rp 14.600.000 /thn
5. Biaya transportasi    = Rp 585.000 /bulan    =  Rp 7.020.000 /thn
6. Biaya pemasaran      = Rp     /bln                  = Rp     /thn
7. Biaya biosekuriti vaksin AI = Rp                   /bulan

3.2    Penerimaan dan Pendapatan

A. Peneriamaan:
1. Produk Utama :        kg/l ; Harga Persatuan: Rp
2. Produk sampingan :

3.3 Efisiensi Biaya  (R/C)
3.4 Rentabilitas (Re)
3.5 Break Even Point (Bep)
 

 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI


4.1    Kesimpulan
1.      Usaha agribisnis ayam ras pedaging pola kemitraan memenuhi kriteria kelayakan. Hal ini dapat dilihat dari Payback Period selam 4 tahun 11 bulan, Break Even Point sebanyak 1.888 ekor atau setara dengan Rp.40..929.250, NPV positif sebesar Rp.59.224.851 dan IRR sebesar 23,58%.
2.      Semakin besar skala usaha (volume pemeliharaan) ayam, keuntungan bersih yang diterima peternak semakin besar.
3.      Analisis sensitivitas dengan kenaikan biaya produksi 2,5% disertai penurunan pendapatan 2,5% memberikan nilai NPV positif Rp.21.468.025 dengan IRR sebesar 16,79%.
4.      Analisis sensivitas skala usaha dengan mempergunakan metode simulasi rumus-rumus BEP menunjukkan hal yang paling mungkin dilakukan oleh peternak dalam meningkatkan keuntungan dari kondisi yang sedang terjadi di lapangan adalah dengan meningkatkan volume penjualan, sehingga peternak mendapatkan nilai tambah pendapatan yang optimal

4.2    Rekomendasi

1. Peternak plasma sebaiknya membuat farm record (cacatan usahatani) secara teratur, lengkap dan terinci serta terpisah dari kegiatan usaha yang lain sehingga memudahkan peternak untuk mengetahui kondisi usahanya.
2. Apabila peternak plasma ingin mendapatkan keuntungan, sebaiknya memelihara ayam dengan jumlah di atas 1.888 ekor.
3.   Peternak plasma sebaiknya mengadakan komunikasi yang lebih intensif dengan inti dalam rangka mendapatkan pembagian hasil usaha yang lebih adil.


 DAFTAR PUSTAKA


Cayati, M. Ufrani. 1997. Analisis Pendapatan Usahatani Ayam Broiler di Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem (Skripsi). Denpasar: Fakultas Peternakan Universitas Udayana.
Hafsah, M. J. 2000. Kemitraan Usaha, Konsep dan Strategi.Cetakan kedua. Jakarta:Penebar Swadaya.
Saragih. 2001. Agribisnis Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis pertanian. Kumpulan Pemikiran, Diedit oleh R. Pambudy, T. Sipayung, J.R.Saragih, Burhanudin dan Frans D.M.Dabukke. Terbitan Kedua. Yayasan Mulia Persada Indonesia dan PT. Surveyor Indonesia Bekerjasama dengan Pusat Studi Pembangunan IPB dan USESE Foundation, Bogor.
Suparta, N. 2001. Perilaku Agribisnis dan Kebutuhan Peternak Ayam Ras Pedaging. Disertasi. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Contact Person

AVIAN JAYA FARM
Nama        : AVIAN TRENGGONO
Alamat      : Jl. Sukaraya-sukatani, Bekasi
Email         : aviantrenggono@yahoo.com
Hp              : 082137612234
Facebook : Avian Trenggono
Twitter      : Avian_trg
Website      : ternakapaaja.blogspot.co.id

VISITORS

Flag Counter