Selamat datang di blog Cara Beternak dan Budidaya, Silahkan cari artikel yang anda butuhkan dengan mengetikan keyword di kotak pencarian
Hasil pencarian
Hasil pencarian
inseminasi buatan dan reproduksi sapi perah
Manajemen pemeliharaan sapi perah perlu di laksanakan dengan baik, terprogram dan terencana. Manajemen pemeliharaan secara umum meliputi manajemen pakan, perkandangan, pemerahan dan reproduksi. Dalam hal ini manajemen reproduksi adalah hal yang penting untuk diperhatikan. Pelaksanaan manajemen reproduksi sapi perah di tujukan supaya aspek produksi dapat berjalan dengan efisien.

Pemeliharaan sapi perah akam membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan poduksi yang maksimal. Mulai dari pedet sampai dewasa dan melahirkan pertama  pada umur kurang lebih 26 – 30 bulan. Semakin cepat beranak tentunya akan semakin baik, karena sapi akan berproduksi ketika ia sudah beranak. Nah waktu beranak pertama dan kedua serta seterusnya perlu direncanakan.

Faktor yang paling utama dalam reproduksi sapi perah ini yaitu jarak beranak (calving interval, day open (DO), dan service per conseption (S/C).


Jarak Beranak (Calving Interval)

Calving inerval adalah dimana seekor induk sapi perah dapat beranak (menghasilkan pedet) dalam jangka waktu yang pendek. Semaikin cepat menghasilkan pedet maka semakin tinggi pula nilai efisiensi pemeliharaan karena dapat menghasilkan susu untuk dijual dan populasi akan bertambah. Jarak waktu beranak (CI) yang ideal adalah 12 bulan, yaitu 9 bulan bunting dan 3 bulan menyusui. Efisiensi reproduksi dikatakan baik apabila seekor induk sapi dapat menghasilkan satu pedet dalam satu tahun (Ball and Peters, 2004).

Pada umumnya di peternakan rakyat kurang lebih 13 -  15 bulan karena hal ini menyangkut beberapa faktor yaitu S/C yang tinggi dan pengaruh pakan (Moran, 2005).  Rataan Jarak beranak sapi perah yang baik yaitu 377 hari (Iskandar dan Farizal, 2011). Jadi panjangnya  jarak beranak ini terletak faktor  S/C dan pakan sehingga solusi yang harus di tempuh peternak adalah dengan perbaikan kualitas pakan.


Day Open (Masa Kosong)

Day open adalah dimana lamanya waktu kosong setelah sapi beranak sampai dikawinkan kembali akibat keterlambatan birahi. Pirlo et al., (2000) menyatakan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan penundaan umur kawin pertama adalah birahi yang terlambat, kesalahan dalam deteksi birahi, kurangnya bobot badan, dan faktor lingkungan.

Menurut Stevenson (2001); Izquierdo, et al. (2008) dan Ali.,et al. (2000) bahwa DO untuk sapi perah betina normalnya adalah 40-60 hari atau 85-115 hari dan tidak ada masa kosong yang kurang dari 30 hari. Sedangkan pada umumnya di peternakan rakyat bisa lebih dari 85 hari yang akan berpengaruh kepada calving interval.

Jadi solusi yang harus dilakukan adalah dengan memperhatikan keseimbangan nutrisi pakan agar bobot tubuh  saat dikawinkan sesuai standar dan merencanakan perkawinan (umur ketika akan dikawinkan, umur kebuntingan dan umur beranak), deteksi birahi yang tepat , faktor lingkungan (kebersihan dan iklim) serta perlakuan perawatan (tretment) sapi yang baru melahirkan, karena Sapi yang baru melahirkan akan terjadi infeksi pada alat reproduksinya yaitu infolusi uterus akibat dari kontraksi dinding uterus untuk mendorong pedet keluar. Proses perawatan dilakukan minimal 60 hari kemudian barulah dikawinkan kembali.


Service per conseption

Service per conception merupakan perbandingan berapa kali perlakuan pelaksanaan perkawinan sampai terjadi kebuntingan. Nilai S/C ini sangat dipengaruhi oleh fktor manusia terutama pada proses perkawinan buatan (inseminasi buatan).  Seperti  pernyataan Johnson, Weitze and Maxwell, (2006) bahwa tingginya nilai S/C diantaranya adalah petugas inseminator . Jainudeen dan Hafez (2008) yang menyatakan bahwa nilai S/C yang normal adalah 1,6-2,0.

Jadi solusi yang harus dilakukan peternak adalah dengan cara peningkatan ketrampilan inseminator melalui pelatihan-pelatihan inseminator balai besar inseminasi buatan Singosari dan BBIB lembang, dan perlu memperhatikan kesehatan induk serta  kualitas semen yang digunakan.


Artikel ini bersumber dari pustaka pada jurnal kemudian saya kembangkan lagi, apabila ingin menyalin tulisan ini maka sertakan sumbernya www.ternakapaaja.blogspot.com dan daftar putaka berikut :


Ball, P.J.H and Peters, A.R. 2004. Reproduction In Cattle. Third Edition. Blackwell Publishing.Victoria. Australia. De Vries, A. 2006. Determinants of the cost of days open in dairy cattle. Department of Animal Sciences. University of Florida. Gainesville 32611. USA.
Iskandar dan Farizal. 2011. Prestasi Reproduksi Sapi Persilangan yang Dipelihara di Dataran  Rendah dan Dataran Tinggi Jambi. Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Sains. 13 (1): 25-28.
Izquierdo, C.A., Campos, V.M.X., Lang,C.G.R., Oaxaca, J.A.S., Suares, S.C., Jimenez, C.A.C., Jimenez, M.S.C., Betancurt, S.D.P., and Liera, J.E.G. 2008. Effect of the Offsprings Sex on Open Days in Dairy Cattle. Journal Animal Veteriner. 7 (10): 1329-1331.
 Jainudeen, M.R. and Hafez, E.S.E. 2008. Cattle And Buffalo dalam Reproduction In Farm Animals. 7th Edition. Edited by Hafez E. S. E. Lippincott Williams & Wilkins. Maryland. USA.
Johnson, L. A., Weitze, K. F., Fiser, P and Maxwell, W. M. C. 2006. Storage Of Boar Semen. Animal Reproduction Science. 62 (2000): 143–172.
Moran, J. 2005. Tropical Dairy Farming. Feeding Management for Small Holder Dairy Farmers
in Humid Tropics. Lanandlinks Press. Collingwood VIC. Australia.
Pirlo, G., Milflior, F. And Speroni, M. 2000. Effect of Age at First Calving on Production Traits and Difference Between Milk Yield and Returns and Rearing Cost in
Italian Holsteins. Journal Dairy Science. 83 (3): 603-608.
Stevenson, J.S. 2001. Reproductive Management of Dairy Cows inhigh Milk-Producing Herds. Journal Dairy Science. 84 (3): 128-143.): 19- 29.

susu
Susu yang populer dan banyak dikonsumsi adalah susu sapi karena populasi sapi perah relatif tinggi dan setiap individu sapi dapat menghasilkan susu 7-20 l/hari. Susu dapat pula diperoleh dari ternak kambing, domba dan kerbau. Namun, susu selain dari ternak sapi belum banyak dikenal. Hal ini disebabkan terbatasnya populasi ternak yang dapat diperah dan produksi susunya hanya sekitar ½ - 1 l/individu. Susu sapi yang masih segar (mentah) pada umum­nya terdiri dari sebagian besar air (87,6%), protein (3,3%), lemak (3,8%) laktosa (4,7%) dan abu (0,7%) (Priesley, 1979). Selain itu terdapat sejumlah kecil vitamin yang larut dalam air dan lemak serta enzim-enzim. Komposisi air susu dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis ternak dan keturunannya (hereditas), bulan laktasi, umur ternak, peradangan pada ambing, pakan ternak, lingkungan dan prosedur pemerahan susu. Lebih kentalnya susu dibandingkan air adalah karena banyaknya bahan kering yang terdapat didalamnya, seperti lemak, protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Viskositas susu juga bisa dipengaruhi antara lain yaitu tercemar oleh kuman-kuman coli yang menyebabkan susu berlendir karena alat yang tidak bersih dan susu lebih encer kemungkinan adanya penambahan sejumlah air kedalam susu (Saleh, 2004). Komposisi nilai gizi susu bervariasi tergan­tung jenis ternak. Susu sapi mengandung protein 3,3% dan lemak 3%. Nilai tersebut relatif lebih rendah dibandingkan susu kambing, susu domba dan susu kerbau (Tabel 1). 

Uji Reduktase  
Enzin reduktase dihaskjan oleh bakteri ang ada didalam susu, semakin cepat warna biru berubah menjadi putih maka semakin banyak bakteri yang adadidalam susu (Hidayat, 2006). Riyadh (2003) menyatakan bahwa daya reduktasi dari susu disebabkan oleh aktivitas enzim tertentu dan juga adanya aktifitaas bakteri. Terdapat hubungan antara jumlah bakteri dalam susu dengan kecepatan daya reduktasi. 
Perubahan warna bifumenjadi warna putih di sebabkan kemampuan bakteri didalam susu untuk tumbuh dan menggunakan oksigen yang terlarut sehingga menyebabkan penurunan kekuatan iksidasi-reduksi dari campurantersebut. Akibatnya metylen blue akan direduksi menjadi warna putih. Semakin cepat terjadinya perubahan biru menjadi putih semkain tinggi jumlah bakteri didalam lsusu pasteurisasi. (Jurnaluji pca wandiro) = semakin cepat waktu (<2 jam ) yang dibutuhkan untuk menetralkan warna biriu, semakin buruk kualitas mikrobiologis susu segar (anderson et al., 2011). 

Uji alkohol 
Hasil uji alkohol yang negatif ditandai dengan tidak adanya gumpalan susu yang melekat pada dinsing tabung reaksi (dirkeswan, 1997), Pemeriksaan kesegaran susu dimaksudkan agar dapat mencegah dan mengurangi kerusakan susu sereta memperbiaki daya simpan susu dan mempertahankan warna, konsentrasi, maupun cita rasususu segar sehingga dapat diproduksi dan dikonsumsi dengan baik. Uji alkohol umumnya digunakan oleh peternak dan koperasi untukmenentukan kesegaran susu sebelum dibawa ke industri pengolahan susu, menurut SNI (1998), susu segar harus negatig (tidak pecah) dengan uji alkohol.
Soedjono et al. (2005) menyatakan bahwa penerikasaaan kesegarav susu terdiri atas veberapa uji sebagai berikut: 1. Uji sensorik atau uji organoleptik 2. Uji kestabilan protein ( uji didih dan uji al kohol), 3. Uji ph , uji derahat asam. Jumlah bakteri yang sedikit merupakn indikatir kualitas kesegaran susu yang baik ( anoni 2005). 
Pada uji alkohol susu yabg tidak baik (misalnya susu asam) akan pecah atau menggumpal hika ditmbahkan alkohol y70%. Alkohol memiliki daya dehidrasi yang akan menarik guugs H+ dari ikatan mantel air protein , sehingga protein dapat melekat satu dengan yang lain akibatnya kestabilan protein yang dinamakan susu pecah (sudarwanto et al., 2005).
Uji alkohol adalah uji yang cepat dan sederhana yang merupakan dasardallam kestabilan protein ketika jumlah asam bertambah dalam susu ( anonim, 2006), menurut buckle et al., 1987) uji alkohol bertuhuan untuk memeriksa dengan tept tingkat keasaman susu. Susu yang mengandung keasaman 0,21% akan terkoagulan dengan penambahanalkohol 70 % dengan demikian, apabila uji alkohol menuunjukan hsl positif dimana degan penambahan alkohol 70% sshg susu rterkoagulan maka susu dalam keadaan  tidak baik. 

Berat Jenis (Viskositas) 
Viskositas dan berat jenis merupakan sifat fisik susu yang dipengaruhi oleh komposisi susu, nilai protein dan lemak susu. Viskositas susu akan meningkat diikuti meningkatnya berat jenis susu. Semakin kental susu maka semakin banyak jumlah padatan didalam susu yang akan meningkatkan berat jenis susu. Oleh karena itu, viskositas dan berat jenis selalu berbanding positif. Menurut Herdiansyah (2011), jika berat jenis susu rendah maka kekentalan susu tersebut sangat rendah, namun sebaliknya jika viskositas kandungan bahan kering tinggi atau berat jenis susu tinggi maka viskositas susu tersebut akan tinggi juga. 
Menurut abubakar(2000) Berat jenis susu dipengaruhi oleh pakan, bahan kering yang yang meningkat maka berat jenis dan visikositas akan meningkt. Menurtu julmiati 2002, kenaikan bj susu disebabkan karena adanya pelepasan CO2 dan N2 yang terdapat ppada susu tersebut, karena sekitar 95% dari nitrogen pada susu berada dalam bentuk protein. 

Pemalsuan Susu 
Pengawasan mutu dalam suatu industri pangan m erupakan suatu faktor penting yang sehat, bergizi dan aman bagi konsumen. Hal ini menjadi makin penting dalam kaitannya dengan perlunya jaminan kepada masyarakat bahwa produk pangan ynag dibeli telah memenuhi standar.
Peningkatan produksi susu harus dilakukan bersama pengawasan terhdap kualitas kesegaran susu. Pengawasan terhadap kualitas kesegaran susu merupakan hal penting dalam rangka menhjamin produkmakanan sehingga bisa diakui oleh koonsumen ( wallace 2000). Susu segar adalah susu yang belum mengalami proses pasteurisasi (pemanasan) atau homogenisasi sebelum dikkonsumsi, rasanya khas dan mudah dicerna, tapi tidak dapat dipastikan apakah susu tersebut menyehatkan atua tidak dibandingkan susu yang sudah mendapat perlakuan (anonim 2006). 

Uji Bakteri (PCA) 
Mikroba yang ditemukan dalam susu dapat disebabkan oleh penanganan susu yang kurang baik. Kontaminasi mikroba dalam susu dapat berasal dari badan ternak, kandang, alat pemerah, proses pemerahan dan udara. Kerusakan susu akibat dari aktivitas dan pertumbuhan mikroba lebih berbahaya dibandingkan kerusakan-kerusakan lainnya. Beberapa kerusakan pada susu yang disebabkan oleh pertumbuhan mikroba antara lain keasaman dan penggumpalan, karena terjadi fermentasi laktosa menjadi asam laktat sehingga pH menurun (asam).  
Nutrisi yang tinggi pada susu tentunya merupak­an media yang sangat baik bagi pertumbuhan mikro organisme patogen maupun saprofit. Menurut Dwi­djoseputro (1990) bakteri yang selalu ada dalam susu adalah bakteri penghasil asam susu, sebagian besar dari famili Lactobacteriaceae dan Streptococcus lactis, kedua spesies ini dapat menyebabkan fermentasi terhadap laktosa. Kerusakan susu men­gakibatkan susu tidak dapat dikonsumsi, karena susu pecah, berbau dan terasa asam.
Sedangkan menurut Saleh (2004), susu yang baik adalah susu yang mengandung jumlah bakteri sedikit, tidak mengandung spora mikroba patogen, bersih yaitu tidak mengandung debu atau kotoran lainnya dan mempunyai cita rasa flavour yang baik.
Air susu selama di dalam ambing atau kelenjar air susu steril, akan tetapi begitu berhubungan dengan udara air susu tersebut dapat terkontaminasimikroba sehingga dapat menjadi sumber penyakit bagi ternak dan manusia. Halini disebabkan karena susu merupakan media yang baik sekali bagipertumbuhan mikroba sehingga apabila penanganannya tidak baik akan dapatmenimbulkan penyakit yang berbahaya. Di samping itu susu sangat mudahmenjadi rusak terutama karena susu merupakan bahan biologik.Menurut Buckle et.al. (1985), kontaminasi tersebut adalah oleh bakteripatogen yang berasal dari lingkungan, peralatan pemerahan, atau ternak itusendiri. Akan tetapi susu yang telah mengalami pasteurisasi merupakan susuyang aman untuk dikonsumsi. Kuman yang mencemari susu akan tumbuhdengan baik apabila kondisi lingkungan sekitar mendukung, seperti keadaananaerob, suhu, kelembaban, pH, dan adanya laktosa. kontaminasi mikroorganisme dapat terjadi akibatsanitasi yangg kurang memadai. Penelitian standar keberadaan mikroorganise dalam susu tersaji dalam tabel. (Anonim 2003). 

Daftar Pustaka 
Abubakar Dkk. 2000. Pengaruh Suhu Dan Waktu Pasterurisasi Terhadap Mutu Susu Selama Penyimpanan. Jurnall Ilmu Ternakdan Veteriner. 6(1):45-50
Anonim.2006. Raw Milk.Wikimediaa Foundation, Inc. GNU Free Documentation Licences 11:19 Http//En.Wikipedia.Org/Wiki/Raw.Milk [20 Juli 2006]
Buckle, KA., TA.E DWARDS, G.H. Gleet Dan M. Wolton. 1987. Ilmu Pangan. Terjemahan Hari Purnomo Dan Adiono . Universitas –Indonesia Press, Jakarta.
Buckle. K. A. Dkk. 1985. Ilmu Pangan. Teerjemahan Univ Indonesia Press. Jakarta.
Campagne Cp, Girard F, Morin N. 1990 Ninhibition Of Psdichtriopic Bacteria Of Raw Milk By Addition Of Lactic Acid Bacteria. Food Research And Cevelopment Centre, Agricultur Canada 53:400-403
Daulay, D. 1991. Fermetasi Keju. Pusat Antar Universutas Pabgab Dan Gizi. Ibtb. Bogor
Dwijoseputro, D. 1990. Dasar-Dassar Mikrobiologi Penerbit Djambatan. Jakarta
Fennema, O.R. 1985. Food Chemistry Second Edition, Revised And Xpanded. Marcel Dekker, Inc. New York And Basel.
Haidiwiyoto, S. 1994. Teori Dan Rosedur Pengujian Mutu Susu Dan Hasil Olahannya, Liberty. Yogyakarta.
Hidayat, H. 2006. Pengaruh Berbagai Konsentrasi Benzaklin Untuk Dipping Terhadap Total Bakteri Dan H Susu. Skripsi. Fakultas Peternakan Undip
Julmiiati. 2002 Perbandingan Kualitas Fisik Susu Pasterisasi Konvensional Dan Mikrowave Dengan Lama Penyimpanan Yang Berbeda. Skripsi Fakultas Peternakan. Unhas. Makasar
Korhonen, H., And A. Pihlanto. 2006. Bioactive Peptides : Production And Funtionality International Diry Journal 16 :945-960
Phalepi,M. A. 2004. Performa Kambing Peranakan Etawah (Studikasus I Peternakan Pusat Pertanian Dan Edesaan Swadaha Citarasa). Fakultas Peternakan. Itb. Bogor
Rahman, A. Dkk 1990 Teknologi Fermentasi Susu. Pusat Antar Universitas Pangan Dan Gizi IPB Bogor
Saleh E. 2004. Dasar Pengolahan Ssusu Dan Hasil Ikutan Ternak. Program Studi Produksi Ternak. Fakultas Pertanian Univ Sumuutara.
Sapru, A.,Dkk 1997. Chedar Cheese :Infuence Of Milking Frequncy And Stage Of Lactation Composition And Yield. J. Dairy Sci. 80:437-446.
Sni Standar N I. 1998. Susu Segar. Jakartaa: Badan Stndarisasi Nasional
Sudarwanto M,. 2005 Bahan Kuliah Hygiene Makanan (Tidak Diterbitkan). Bagian Penyakit Hewan Dan Kesehatan Masyarakat Vetreiner FKH IPB. Bogor
Volk, WA. DAN M.F. Wheeler. 1990 Mikrobiologi Dasar. Edisi Ke-5 Erlangga Jakarta
Wallace Ri. 2000. Trouble Shooting Troublesome Somatic Cell Counts. Virginiarech.Http://Www.Trail.Uiuc.Edu//Dairvnet/Paperdisplay.Cfm?Conte Ntid=319(25 MARET 2005)
Widodo, A. V. Rachmawati, R. C. Chulaila Dan S. Budisatria. 2012. Produksi Dan Evaluasi Kualitas Susu Bubuk Asal Kambing Peranakan Etawa (Pe). Jurnal Tteknol Dan Industri Pangan, Vol XXIII No. 2 Th. 2012. Fapet. UGM. YOGYAKARTA.
 
 

 



 
 
 
Permasalahan reproduksi dianggap sebagai salah satu aspek untuk meningkatkan produksi dan populasi ternak. Hal ini disebabkan adanya prinsip dimana tidak ada produksi tanpa reproduksi didalam bidang peternakan terutama ternak potong.. Produksi susu seekor ternak potong berhubungan dengan lahirnya seekor pedet. Fase produksi susu yang diperoleh pada saat empat bulan pertama pasca partum.
Usaha peningkatan produksi banyak mengalami banyak mengalami kendala yang meliputi faktor internal dan eksternal. Diantara faktor internal misalnya umur ternak selama fase reproduksi, sedangkan faktor eksternal misalnya lamanya istirahat pasca partum. Ternak sapi dalam kondisi pasca partum masih perlu istirahat untuk memulihkan kondisi alat-alat reproduksi agar siap menerima kebuntingan yang baru. Bila hal ini tidak diperhatikan akan mempengaruhi kemampuan reproduksi induk atau mengurangi kemampuan induk untuk melahirkan anak. Kondisi alat reproduksi pasca partu erat hubungannya dengan penampilan reproduksi periode berikutnya sekaligus sebagai indakator untuk mengukur efesiensi reproduksi seekor ternak. Efesiensi reproduksi yang tinggi berarti ternak memiliki tingkat fertilitas yang tinggi.
Efesiensi reproduksi merupkan suatu ukuran keberhasilan bereproduksinya sekelompok ternak. Efesiensi reproduksi dalam populasi ternak tidak dapat diukur semata- mata oleh proposi ternak yang tidak mampu memproduksi anak. Hewan betina mampu menghasilkan anak hanya apabila dikawinkan dengan seekor hewan jantan yang menghasilkan spermatozoa yang selanjutnya dapat membuahi ovum dan memulai proses yang berhubungan dengan konsepsi, implantasi, dan pertumbuhan janin.
 
 1.1    Tujuan
1.      Agar mahasiswa memperoleh pengalaman yang berharga dengan mengenali kegiatan kegiatan di lapangan yang berkaitan dibidang menejemen reproduksi sapi potong.
2.      Meningkatkan pemahaman mengenai hubungan antara teori dan penerapannya, serta faktor-faktor yang mempengaruhi menejemen reproduksi.
1.3 Waktu dan Tempat
Praktikum manajemen reproduksi ternak  babi  dilakukan  pada  tanggal 11 Oktober   2013   bertempat  di  peternakan   sapi ptong yang bertempat di Ex-Fram, fakultas peternakan Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto.

TINJAUAN PUSTAKA
Perkawinan pada ternak sapi dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu: Kawin Alam (KA) dan Inseminasi Buatan (IB). KA biasanya menghasilkan keturunan yang kurang baik, sedangkan dengan IB lebih menjanjikan menghasilkan keturunan yang baik karena perkawinan dengan IB menggunakan sperma dari sapi pejantan unggul Supaya terjadi kebuntingan, perkawinan harus dilakukan pada saat sapi betina birahi (minta kawin). Apabila tidak bunting dan tidak ada kelainan, sapi betina akan birahi setiap 18-21 hari (satu siklus).( Achjadi, 2009).
Kebuntingan dapat diamati 21 hari setelah perkawinan. Kalau tidak ada tanda-tanda birahi, maka kebuntingan telah terjadi, namun apabila tanda-tanda birahi muncul lagi, maka perkawinan perlu diulang. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan perabaan, yang hanya dapat dilakukan oleh petugas yang terlatih dan berpengalaman. Setelah anak sapi lahir, induk sapi dapat dikawinkan lagi 3 (tiga) bulan setelah melahirkan. Sapi bunting harus dipisahkan dari sapi yang lain. Kondisi ini dilakukan untuk menjaga kebuntingan.( Blakely, J 1991)
Beberapa hari menjelang melahirkan, induk yang bunting akan menunjukkan tanda-tanda:  Ambing membesar dan kencang, urat daging di sekitar vulva mengendor dan di kanan-kiri pangkal ekor kelihatan legok. Beberapa saat menjelang melahirkan, sapi gelisah. Apabila tanda-tanda tersebut muncul, kadang harus dibersihkan dari kotoran dan diberi alas dengan jerami kering. Setelah melahirkan, induk sapi akan membersihkan linder yang menempel pada pedet yang baru dilahirkan dengan lidah. Apabila induk lemah dan tidak mapu, maka kita perlu menolong membersihkan, terutama yang mengganggu lubang pernafasan. Supaya kelahiran berjalan lancar, induk sapi yang akan beranak diberi kesempatan bergerak kira-kira 2-3 minggu menjelang melahirkan. (Hardjopranoto, 1991)           

MATERI DAN CARA KERJA
3.1 Materi
Materi yang digunakan dalam praktikum reproduksi ternak babi adalah:
3.1.1 Alat
- Alat tulis                                  - Quisioner
- Alammater                               - Sepatu bot
3.1.2 Bahan
- Sapi potong

3.2 Cara Kerja
1.    Peternakan potong didatangi oleh praktikan,
2.    Dilakukan wawancara dengan bpk sufirriyanto
3.    Dicatat keterangan dan hasil yang didapat lalu bandingkan dengan buku laporan praktikum


HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 HASIL
A. TERNAK MUDA
1. Umur pertama ternak dikawinkan
a.       Betina                                      : 1,5 – 2 tahun
b.      Jantan                                      : 2,5 – 3 tahun
2. Kriteria Calon pejantan dan induk
a.       Betina                                      : fertil, subur
b.      Jantan                                      : bentuk testis sama dan ada 2 (cliptorchide)
3. Perawatan
a.       Sistem pemeliharaan               : intensif
b.      Lama exercize (menit) : min 30 menit, max 1 jam
c.       Metode exercize                      : mengelilingi kandang setiap hari
4. Pakan
a.       Jenis pakan yang digunakan               : konsentrat, hijauan, jerami amoniasi
b.      Jumlah pakan yang diberikan              : sesuai umur dan BB.
c.       Jenis pakan tambahan (additive)         : jerami amoniasi
d.      Komposisi pakan yang diberikan        : protein 14 %, TDN 76 %
5. kesehatan
a.       Pemberian vaksin                    : vaksin brucella sh 19
b.      Pemberian obat                       : obat cacing hati (dovemix dan flucil)
c.       Penyakit ynag sering diderita : kembung dan mencret tak berbau
d.      Dosis penggunaan obat tiap penyakit : 10  ml
e.       Cara menggatasi penyakit       : mengobati sesuai gejala penyakit

B INDUKAN
1.    Manajemen reproduksi
a.    Cara mendeteksi berahi                       : melihat dengan metode 3 A
b.    Tanda-tanda berahi                             : 3 A (abang,abuh,anget)
c.    Cara mengawinkan (IB/alami)            : IB
Tahapannya : dilakukan oleh inseminator
d.   Proses perkawinan berapa kali            : 3 x baru bunting
e.    Mengawinkan sapi pada pukul berapa            : siang hari
f.     Jarak kandang dengan kantor dinas    : -
g.    Umur pertama kali dikawinkan           : 1,5 tahun
h.    Umur terakhir dikawinkan      : tergantung kondisi betina
i.      Penangganan saat bunting       : alami dengan bantuan manusia
j.      Lama kebuntingan                   : 9 bulan 10 hari
k.    Proses kelahiran                       : alami
Penangganannya                     : di bantu oleh peternak
l.      Jumlah anakan tiap kelahiran              :1 ekor
m.  Service per conception/jumlah IB       : 4 x IB = 1
n.    Kapan / pada umur berapa betina di culling, alasannya apa :-
o.    Jarak beranak ( bulan )                                    :12 bulan
p.    Pada umur berapa bulan anak sapi di sapih     : 6 bulan
q.    Berapa jarak waktu induk di kawinkan lagi setelah anaknya disapih :35 hari
r.     Bagaiman ciri-ciri anakan yang baik untuk dijadikan pejantan dan indukan : bergenetik bagus.
2.        Perawatan
Pemberian hormon                              : ya 
     System pemeliharaan                          : intensif 
         Lama exercize ( menit )                       : 30 menit
     Metode exercize                                  : mengelilingi kandang
3.        Pakan
a.    Jenis pakan yang digunakan                : konsentrat, hijauan, jerami amoniasi
b.    Jumlah pakan yang diberikan              : sesuai BB
c.    Jenis pakan tambahan (additive)         : konsentrat dan jerami amoniasi
d.   Komposisi pakan yang diberikan        : protein 14 %, TDN 76 %
4.        Kesehatan
a.    Pemberian vaksin                                : vaksin brucella
b.    Pemberian obat                                    : obat cacing hati
c.    Penyakit yang sering diderita              : diare,babesia,cacing hati, kembung
d.   Cara mengatasi penyakit                     : diobati sesuai jenis penyakit
C. PEJANTAN
1. Reproduksi             
a.       Koleksi simen                                      : tidak
b.      Umur pertama dikawinkan                 : 2 tahun
c.       Umur terakhir dikawinkan                  : tergantung kondisi pejantan
d.      Kriteria khusus pejantan                     : testis 2 dan simetris
e.       Kapan / pada umur berapa pejantan di culling, alasannya apa: -
2. perawatan
a.       Pemberian hormon                              : tidak
b.      Sistem pemeliharaan                           : intensif
c.       Lama exercize ( menit )                       : 30 menit
d.      Metode exercize                                  : mengelilingi kandang
3.    Pakan                                                         
a.    Jenis pakan yang digunakan                : konsentrat, jerami amoniasi,hijauan
b.    Jumlah pakan yang diberikan              : konsentrat : jerami amoniasi 1:2
c.    Jenis pakan tambahan (additive)         : Ampas tahu
d.   Komposisi pakan yang diberikan        :
4.    Kesehatan
e.    Pemberian vaksin                                : Ada
f.     Pemberian obat                                    : Ada
g.    Penyakit yang sering diderita              : Kembung atau bloat
h.    Cara mengatasi penyakit                     : Sanitasi kandang dan pengobatan

PEMBAHASAN
3.2.1.Pubertas
         Perkembangan dan pendewasaan alat kelamin dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah bangsa sapi dan manajemen pemberian pakan. Dalam kondisi pemberian pakan yang baik pubertas pada sapi betina dapat terjadi pada umur 5 – 15 bulan. Berat badan dan atau besar tubuh lebih penting daripada umur, sebab sapi yang diberi pakan rendah dua kali lebih tua daripada umur yang dicapai oleh sapi dengan tingkatan yang tinggi. Dimana bobot badan yang ideal untuk pubertas berkisar 227 – 272 kg pada umur rata – rata 15 bulan.
Sapi mencapai dewasa kelamin sebelum dewasa tubuh tercapai. Keterangan ini memberi petunjuk agar tidak mengawinkan sapi betina pada waktu munculnya tanda-tanda pubertas yang pertama, Karen ajika mengawinkan terlalu cepat, maka sapi akan bunting dengan kondisi badan masih dalam proses pertumbuhan, maka tubuhnya harus menyediakan makanan untuk pertumbuhan dirinyadananakdalamrahimnya.(Rianto,2009)
3.2.2 Birahi
pada hewan betina merupakan suatu proses yang kompleks dan dapat terganggu pada berbagai stadium sebelum dan sesudah permulaan siklus reproduksi. Siklus ini dimulai dengan pubertas atau dewasa kelamin yang ditandai Reproduksi dengan berfungsinya organ-organ kelamin betina. Kemudian musim kawin yang ditandai dengan siklus birahi, kopulasi, adanya kelahiran setelah kebuntingan dan anak disapih. Maka ternak betina akan kembali ke masa siklus birahi dan seterusnya (Toelihere, 1981).
Siklus birahi ternak betina terbagi menjadi 4 fase yaitu proestrus, estrus, metestrus, dan diestrus. Proestrus ditandai dengan pertumbuhan folikel tersier menjadi folikel de graff. Kelenjar endometrium memanjang, cervix mulai merelaks dan lumen cervix mulai memproduksi lendir. Estrus ditandai dengan adanya kopulasi, ovum telah masak dan dinding folikel menjadi tipis serta terjadi ovulasi (pecahnya dinding folikel dan keluarnya ovum dari folikel). Metestrus ditandai dengan pembentukan corpus hemorragicum dixix tempat folikel de graff, kelenjar kental disekeresikan oleh cervix untuk menutup lubang cervix. Diestru ditandai dengan kebuntingan dan adanya selselkuning (luteum) di bawah lapisan hemoragik (Partodihardjo, 1980). Dari penjelasan pada praktikum siklus birahi pada sapi ada 4 fase, hal ini jelas sesuai dengan literatur di atas.
Pada umumnya gejala-gejala berahi pada ternak adalah sebagai berikut:
1.      Kemaluan bagian luar (vulva) ternak berwarna merah
2.      Bila dicermati kemaluan tersebut membengkak
3.      Bila diraba kemaluan tersebut terasa hangat
4.      Dari kemaluan keluar lendir bening dan transparan
5.      Gelisah dan kurang nafsu makan 
Hasil dari pelaksanaan praktikum tanda-tanda birahi 3 A yaitu abang, abuh, anget. Jika dibandingkan dengan literatur juga memiliki kesamaan.                               
3.2.3. Kawin Inseminasi Buatan(IB)
Dalam pelaksanaan inseminasi buatan, bagi para pelaksana (inseminator) maupun pemilik sapi, sulit untuk mengetahui saat dimulainya estrus, lebih-lebih saat ovulasinya. Untuk memudahkan pelaksanaan, maka dibuat petunjuk umum yang dapat dipergunakan dengan mudah. Faktor terpenting dalam petunjuk tersebut adalah pengamatan terhadap birahi. Jika gejala birahi pada pagi ini, maka inseminasi harus dilakukan pada sore hari ini juga, jika sapi terlihat birahi pada sore hari ini maka inseminasi dilakukan esok harinya sebelum jam 12 siang (Partodihardjo, 1980).
 Waktu yang tepat untuk melakukan IB pada ternak sapi adalah 15 s/d 18 jam setelah sapi menunjukkan gejala berahi karena pada saat tersebut sel telur telah mencapai saluran tuba falopii yaitu saluran tempat penyatuan sel telur dengan sperma yang diikuti dengan proses pembuahan.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kegagalan dalam pelaksanaan IB pada ternak sapi yaitu:
  1. Kondisi kesehatan sapi betina yang di IB. Betina yang kondisinya sehat (sebelum dan setelah di IB) akan mampu memelihara kebuntingannya sampai melahirkan dengan baik.
  2. Ketepatan waktu pelaksanaan IB
  3. Mutu semen beku yang digunakan. Semen beku yang digunakan hendaknya mendapatkan penanganan yang benar mulai saat produksi, penyimpanan dan distribusi sampai di tingkat lapangan
  4. Keterampilan petugas IB sangat mempengaruhi keberhasilan IB. Makin terampil petugas IB, makin kecil resiko kegagalannya            
3.2.4 Kawin Alam (KA)
          Upaya peningkatan populasi ternak sapi dapat dilakukan denganintensifikasi kawin alam melalui distribusi pejantan unggul terseleksidari bangsa sapi lokal atau impor dengan empat manajemenperkawinan, yakni: (1) perkawinan model kandang individu, (2)perkawinan model kandang kelompok/umbaran, (3) perkawinan modelrench (paddock) dan (4) perkawinan model padang pengembalaan.Pejantan yang digunakan berasal dari hasil seleksisederhana, yaitu berdasarkan penilaian performans tubuh dan kualitassemen yang baik, berumur lebih dari dua tahun dan bebas dari penyakitreproduksi seperti EBL dan IBR.( Anonimus, 1991)                                     Untuk seleksi induk diharapkan memiliki deskriptif sebagai berikut: 1) indukdereman/manaan (nahunan), yakni dapat beranak setiap tahun, 2) skor kondisi tubuh 5-7 (Gambar 4), 5) badan tegap, sehat dan tidak cacat, 4)tulang pinggul dan ambing besar, lubang pusar agak dalam dan 5)Tinggi gumba > 135 cm dengan bobot badan > 300 kg.
Cara kawin alam ini dianjurkan dengan pertimbangan:
1.      secara alamiah ternak sapi potong memiliki kebebasan hidup, sehingga mendukung perkembangbiakannya secara normal
2.      secara alamiah ternak sapi jantan mampu mengetahui ternak sapi betina yang berahi
3.      penanganan perkawinan secara kawin alam memerlukan biaya yang sangat murah, tanpa adanya campur tangan manusia
4.      metode kawin alam sangat efektif dan efisien, sehingga dapat digunakan sebagai pola usaha budidaya ternak mulai dari cara intensif, semi intensif dan ektensif, bahkan juga dilakukan di beberapa perusahaan.

3.2.5 Kebuntingan
Sapi dinyatakan bunting setelah dilakukan pemeriksaan kebuntingan apabila dalam 60-90 hari setelah IB sapi tersebut tidak terjadi birahi kembali (return heat) maka sapi tersebut akan masuk program pemeliharaan sapi bunting. Pemeliharaan sapi bunting di UPTD Aneka Usaha Ternak terdapat 2 kelompok yaitu sapi bunting muda (3-6 bulan) dan sapi yang masuk dalam kebuntingan tua antara 6-9 bulan. Sapi yang bunting tua akan dipindahkan ke kandang tersendiri agar lebih memudahkan dalam pengawasan.( Murtidjo, 2001)                              Pemeriksaan kebuntingan pada sapi selain dapat untuk menentukan usia kebuntingan ternak sapi juga sekaligus dapat untuk menentukan diagnose perbedaan antara kebuntingan dengan kelainan atau gangguan pada organ reproduksi. Pemeriksaan kebuntingan dilakukan secara teratur dengan interval waktu antara 30-40 hari dari inseminasi yang terakhir. Sapi yang kemudian dinyatakan bunting, diperiksa kembali setelah 90-120 hari setelah pemeriksaan kebuntingan yang terakhir. Dengan demikian dapat untuk menghindari inseminasi ulang pada sapi yang sedang bunting (Partodihardjo,1980)                                       Letak kebuntingan pada ternak sapi biasanya pada daerah perut bagian kanan. Hal ini disebabkan aktivitas ovarium kanan dan kiri tidak sama. Ovarium kanan pada sapi lebih aktif dan besar bila dibandingkan dengan ovarium kiri. Volume uterus mengembang mengikuti pertumbuhan embrio atau fetus yang dikandungnya. Bagian cornu uterus akan berangsur turun, biasanya terjadi pada usia kebuntingan 90 hari. Pada umur 4 bulan ujung uterus sampai ke dasar ruang perut. Pada usia 5 bulan dasar perut dipenuhi oleh uterus yang bunting. Pada usia 9 bulan, dinding uterus bersentuhandengan dinding rektum (Sugeng, 2003)
3.3.6 Kelahiran
Kebuntingan pada sapi terjadi selama 275-285 hari dengan rata-rata 280 hari. Induk yang akan melahirkan menunjukkan tanda tanda seperti: vulva membengkak dan warna kemerahan, pinggul terasa lebih lentur, puting mulai membengkak dan sedikit meneteskan air susu, dan vulva akan mengeluarkan lendir saat mendekati kelahiran. Beberapa persiapan yang perlu dilakukan apabila sapi memperlihatkan gejala-gejala akan melahirkan adalah:
a) pembersihan kandang untuk memudahkan pergerakan induk sebelum
atau pada saat proses melahirkan,
b) lantai kandang diberi alas, berupa jerami padi kering sebagai alas agar cairan yang keluar selama proses kelahiran dapat terserap dengan cepat
c) sediakan obat-obatan untuk mengantisipasi keadaan yang darurat.
Secara umum proses kelahiran akan terjadi maksimal 8 jam, apabila melebihi waktu tersebut pedet belum juga keluar maka sebaiknya segera laporkan kepada Petugas Peternakan setempat.( Puslitbangnak. 2007)
  
KESIMPULAN
Dari praktikum yang kita laksanakan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      pubertas pada sapi betina dapat terjadi pada umur 5 – 15 bulan.
2.      Siklus birahi ternak betina terbagi menjadi 4 fase yaitu proestrus, estrus, metestrus, dan diestrus.
3.      Waktu yang tepat untuk melakukan IB pada ternak sapi adalah 15 s/d 18 jam setelah sapi menunjukkan gejala berahi.
4.      Perkawinan pada ternak dapat dapat dilakukan dalam dua metode, yaitu: kawin alami dan kawin buatan
5.      Sapi dinyatakan bunting setelah dilakukan pemeriksaan kebuntingan apabila dalam 60-90 hari setelah IB sapi tersebut tidak terjadi birahi kembali (return heat)
Permasalahan reproduksi dianggap sebagai salah satu aspek untuk meningkatkan produksi dan populasi ternak. Hal ini disebabkan adanya prinsip dimana tidak ada produksi tanpa reproduksi didalam bidang peternakan terutama ternak potong.. Produksi susu seekor ternak potong berhubungan dengan lahirnya seekor pedet. Fase produksi susu yang diperoleh pada saat empat bulan pertama pasca partum.
Usaha peningkatan produksi banyak mengalami banyak mengalami kendala yang meliputi faktor internal dan eksternal. Diantara faktor internal misalnya umur ternak selama fase reproduksi, sedangkan faktor eksternal misalnya lamanya istirahat pasca partum. Ternak sapi dalam kondisi pasca partum masih perlu istirahat untuk memulihkan kondisi alat-alat reproduksi agar siap menerima kebuntingan yang baru. Bila hal ini tidak diperhatikan akan mempengaruhi kemampuan reproduksi induk atau mengurangi kemampuan induk untuk melahirkan anak. Kondisi alat reproduksi pasca partu erat hubungannya dengan penampilan reproduksi periode berikutnya sekaligus sebagai indakator untuk mengukur efesiensi reproduksi seekor ternak. Efesiensi reproduksi yang tinggi berarti ternak memiliki tingkat fertilitas yang tinggi.
Efesiensi reproduksi merupkan suatu ukuran keberhasilan bereproduksinya sekelompok ternak. Efesiensi reproduksi dalam populasi ternak tidak dapat diukur semata- mata oleh proposi ternak yang tidak mampu memproduksi anak. Hewan betina mampu menghasilkan anak hanya apabila dikawinkan dengan seekor hewan jantan yang menghasilkan spermatozoa yang selanjutnya dapat membuahi ovum dan memulai proses yang berhubungan dengan konsepsi, implantasi, dan pertumbuhan janin.
 
 1.1    Tujuan
1.      Agar mahasiswa memperoleh pengalaman yang berharga dengan mengenali kegiatan kegiatan di lapangan yang berkaitan dibidang menejemen reproduksi sapi potong.
2.      Meningkatkan pemahaman mengenai hubungan antara teori dan penerapannya, serta faktor-faktor yang mempengaruhi menejemen reproduksi.
1.3 Waktu dan Tempat
Praktikum manajemen reproduksi ternak  babi  dilakukan  pada  tanggal 11 Oktober   2013   bertempat  di  peternakan   sapi ptong yang bertempat di Ex-Fram, fakultas peternakan Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto.

TINJAUAN PUSTAKA
Perkawinan pada ternak sapi dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu: Kawin Alam (KA) dan Inseminasi Buatan (IB). KA biasanya menghasilkan keturunan yang kurang baik, sedangkan dengan IB lebih menjanjikan menghasilkan keturunan yang baik karena perkawinan dengan IB menggunakan sperma dari sapi pejantan unggul Supaya terjadi kebuntingan, perkawinan harus dilakukan pada saat sapi betina birahi (minta kawin). Apabila tidak bunting dan tidak ada kelainan, sapi betina akan birahi setiap 18-21 hari (satu siklus).( Achjadi, 2009).
Kebuntingan dapat diamati 21 hari setelah perkawinan. Kalau tidak ada tanda-tanda birahi, maka kebuntingan telah terjadi, namun apabila tanda-tanda birahi muncul lagi, maka perkawinan perlu diulang. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan perabaan, yang hanya dapat dilakukan oleh petugas yang terlatih dan berpengalaman. Setelah anak sapi lahir, induk sapi dapat dikawinkan lagi 3 (tiga) bulan setelah melahirkan. Sapi bunting harus dipisahkan dari sapi yang lain. Kondisi ini dilakukan untuk menjaga kebuntingan.( Blakely, J 1991)
Beberapa hari menjelang melahirkan, induk yang bunting akan menunjukkan tanda-tanda:  Ambing membesar dan kencang, urat daging di sekitar vulva mengendor dan di kanan-kiri pangkal ekor kelihatan legok. Beberapa saat menjelang melahirkan, sapi gelisah. Apabila tanda-tanda tersebut muncul, kadang harus dibersihkan dari kotoran dan diberi alas dengan jerami kering. Setelah melahirkan, induk sapi akan membersihkan linder yang menempel pada pedet yang baru dilahirkan dengan lidah. Apabila induk lemah dan tidak mapu, maka kita perlu menolong membersihkan, terutama yang mengganggu lubang pernafasan. Supaya kelahiran berjalan lancar, induk sapi yang akan beranak diberi kesempatan bergerak kira-kira 2-3 minggu menjelang melahirkan. (Hardjopranoto, 1991)           

MATERI DAN CARA KERJA
3.1 Materi
Materi yang digunakan dalam praktikum reproduksi ternak babi adalah:
3.1.1 Alat
- Alat tulis                                  - Quisioner
- Alammater                               - Sepatu bot
3.1.2 Bahan
- Sapi potong

3.2 Cara Kerja
1.    Peternakan potong didatangi oleh praktikan,
2.    Dilakukan wawancara dengan bpk sufirriyanto
3.    Dicatat keterangan dan hasil yang didapat lalu bandingkan dengan buku laporan praktikum


HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 HASIL
A. TERNAK MUDA
1. Umur pertama ternak dikawinkan
a.       Betina                                      : 1,5 – 2 tahun
b.      Jantan                                      : 2,5 – 3 tahun
2. Kriteria Calon pejantan dan induk
a.       Betina                                      : fertil, subur
b.      Jantan                                      : bentuk testis sama dan ada 2 (cliptorchide)
3. Perawatan
a.       Sistem pemeliharaan               : intensif
b.      Lama exercize (menit) : min 30 menit, max 1 jam
c.       Metode exercize                      : mengelilingi kandang setiap hari
4. Pakan
a.       Jenis pakan yang digunakan               : konsentrat, hijauan, jerami amoniasi
b.      Jumlah pakan yang diberikan              : sesuai umur dan BB.
c.       Jenis pakan tambahan (additive)         : jerami amoniasi
d.      Komposisi pakan yang diberikan        : protein 14 %, TDN 76 %
5. kesehatan
a.       Pemberian vaksin                    : vaksin brucella sh 19
b.      Pemberian obat                       : obat cacing hati (dovemix dan flucil)
c.       Penyakit ynag sering diderita : kembung dan mencret tak berbau
d.      Dosis penggunaan obat tiap penyakit : 10  ml
e.       Cara menggatasi penyakit       : mengobati sesuai gejala penyakit

B INDUKAN
1.    Manajemen reproduksi
a.    Cara mendeteksi berahi                       : melihat dengan metode 3 A
b.    Tanda-tanda berahi                             : 3 A (abang,abuh,anget)
c.    Cara mengawinkan (IB/alami)            : IB
Tahapannya : dilakukan oleh inseminator
d.   Proses perkawinan berapa kali            : 3 x baru bunting
e.    Mengawinkan sapi pada pukul berapa            : siang hari
f.     Jarak kandang dengan kantor dinas    : -
g.    Umur pertama kali dikawinkan           : 1,5 tahun
h.    Umur terakhir dikawinkan      : tergantung kondisi betina
i.      Penangganan saat bunting       : alami dengan bantuan manusia
j.      Lama kebuntingan                   : 9 bulan 10 hari
k.    Proses kelahiran                       : alami
Penangganannya                     : di bantu oleh peternak
l.      Jumlah anakan tiap kelahiran              :1 ekor
m.  Service per conception/jumlah IB       : 4 x IB = 1
n.    Kapan / pada umur berapa betina di culling, alasannya apa :-
o.    Jarak beranak ( bulan )                                    :12 bulan
p.    Pada umur berapa bulan anak sapi di sapih     : 6 bulan
q.    Berapa jarak waktu induk di kawinkan lagi setelah anaknya disapih :35 hari
r.     Bagaiman ciri-ciri anakan yang baik untuk dijadikan pejantan dan indukan : bergenetik bagus.
2.        Perawatan
Pemberian hormon                              : ya 
     System pemeliharaan                          : intensif 
         Lama exercize ( menit )                       : 30 menit
     Metode exercize                                  : mengelilingi kandang
3.        Pakan
a.    Jenis pakan yang digunakan                : konsentrat, hijauan, jerami amoniasi
b.    Jumlah pakan yang diberikan              : sesuai BB
c.    Jenis pakan tambahan (additive)         : konsentrat dan jerami amoniasi
d.   Komposisi pakan yang diberikan        : protein 14 %, TDN 76 %
4.        Kesehatan
a.    Pemberian vaksin                                : vaksin brucella
b.    Pemberian obat                                    : obat cacing hati
c.    Penyakit yang sering diderita              : diare,babesia,cacing hati, kembung
d.   Cara mengatasi penyakit                     : diobati sesuai jenis penyakit
C. PEJANTAN
1. Reproduksi             
a.       Koleksi simen                                      : tidak
b.      Umur pertama dikawinkan                 : 2 tahun
c.       Umur terakhir dikawinkan                  : tergantung kondisi pejantan
d.      Kriteria khusus pejantan                     : testis 2 dan simetris
e.       Kapan / pada umur berapa pejantan di culling, alasannya apa: -
2. perawatan
a.       Pemberian hormon                              : tidak
b.      Sistem pemeliharaan                           : intensif
c.       Lama exercize ( menit )                       : 30 menit
d.      Metode exercize                                  : mengelilingi kandang
3.    Pakan                                                         
a.    Jenis pakan yang digunakan                : konsentrat, jerami amoniasi,hijauan
b.    Jumlah pakan yang diberikan              : konsentrat : jerami amoniasi 1:2
c.    Jenis pakan tambahan (additive)         : Ampas tahu
d.   Komposisi pakan yang diberikan        :
4.    Kesehatan
e.    Pemberian vaksin                                : Ada
f.     Pemberian obat                                    : Ada
g.    Penyakit yang sering diderita              : Kembung atau bloat
h.    Cara mengatasi penyakit                     : Sanitasi kandang dan pengobatan

PEMBAHASAN
3.2.1.Pubertas
         Perkembangan dan pendewasaan alat kelamin dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah bangsa sapi dan manajemen pemberian pakan. Dalam kondisi pemberian pakan yang baik pubertas pada sapi betina dapat terjadi pada umur 5 – 15 bulan. Berat badan dan atau besar tubuh lebih penting daripada umur, sebab sapi yang diberi pakan rendah dua kali lebih tua daripada umur yang dicapai oleh sapi dengan tingkatan yang tinggi. Dimana bobot badan yang ideal untuk pubertas berkisar 227 – 272 kg pada umur rata – rata 15 bulan.
Sapi mencapai dewasa kelamin sebelum dewasa tubuh tercapai. Keterangan ini memberi petunjuk agar tidak mengawinkan sapi betina pada waktu munculnya tanda-tanda pubertas yang pertama, Karen ajika mengawinkan terlalu cepat, maka sapi akan bunting dengan kondisi badan masih dalam proses pertumbuhan, maka tubuhnya harus menyediakan makanan untuk pertumbuhan dirinyadananakdalamrahimnya.(Rianto,2009)
3.2.2 Birahi
pada hewan betina merupakan suatu proses yang kompleks dan dapat terganggu pada berbagai stadium sebelum dan sesudah permulaan siklus reproduksi. Siklus ini dimulai dengan pubertas atau dewasa kelamin yang ditandai Reproduksi dengan berfungsinya organ-organ kelamin betina. Kemudian musim kawin yang ditandai dengan siklus birahi, kopulasi, adanya kelahiran setelah kebuntingan dan anak disapih. Maka ternak betina akan kembali ke masa siklus birahi dan seterusnya (Toelihere, 1981).
Siklus birahi ternak betina terbagi menjadi 4 fase yaitu proestrus, estrus, metestrus, dan diestrus. Proestrus ditandai dengan pertumbuhan folikel tersier menjadi folikel de graff. Kelenjar endometrium memanjang, cervix mulai merelaks dan lumen cervix mulai memproduksi lendir. Estrus ditandai dengan adanya kopulasi, ovum telah masak dan dinding folikel menjadi tipis serta terjadi ovulasi (pecahnya dinding folikel dan keluarnya ovum dari folikel). Metestrus ditandai dengan pembentukan corpus hemorragicum dixix tempat folikel de graff, kelenjar kental disekeresikan oleh cervix untuk menutup lubang cervix. Diestru ditandai dengan kebuntingan dan adanya selselkuning (luteum) di bawah lapisan hemoragik (Partodihardjo, 1980). Dari penjelasan pada praktikum siklus birahi pada sapi ada 4 fase, hal ini jelas sesuai dengan literatur di atas.
Pada umumnya gejala-gejala berahi pada ternak adalah sebagai berikut:
1.      Kemaluan bagian luar (vulva) ternak berwarna merah
2.      Bila dicermati kemaluan tersebut membengkak
3.      Bila diraba kemaluan tersebut terasa hangat
4.      Dari kemaluan keluar lendir bening dan transparan
5.      Gelisah dan kurang nafsu makan 
Hasil dari pelaksanaan praktikum tanda-tanda birahi 3 A yaitu abang, abuh, anget. Jika dibandingkan dengan literatur juga memiliki kesamaan.                               
3.2.3. Kawin Inseminasi Buatan(IB)
Dalam pelaksanaan inseminasi buatan, bagi para pelaksana (inseminator) maupun pemilik sapi, sulit untuk mengetahui saat dimulainya estrus, lebih-lebih saat ovulasinya. Untuk memudahkan pelaksanaan, maka dibuat petunjuk umum yang dapat dipergunakan dengan mudah. Faktor terpenting dalam petunjuk tersebut adalah pengamatan terhadap birahi. Jika gejala birahi pada pagi ini, maka inseminasi harus dilakukan pada sore hari ini juga, jika sapi terlihat birahi pada sore hari ini maka inseminasi dilakukan esok harinya sebelum jam 12 siang (Partodihardjo, 1980).
 Waktu yang tepat untuk melakukan IB pada ternak sapi adalah 15 s/d 18 jam setelah sapi menunjukkan gejala berahi karena pada saat tersebut sel telur telah mencapai saluran tuba falopii yaitu saluran tempat penyatuan sel telur dengan sperma yang diikuti dengan proses pembuahan.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kegagalan dalam pelaksanaan IB pada ternak sapi yaitu:
  1. Kondisi kesehatan sapi betina yang di IB. Betina yang kondisinya sehat (sebelum dan setelah di IB) akan mampu memelihara kebuntingannya sampai melahirkan dengan baik.
  2. Ketepatan waktu pelaksanaan IB
  3. Mutu semen beku yang digunakan. Semen beku yang digunakan hendaknya mendapatkan penanganan yang benar mulai saat produksi, penyimpanan dan distribusi sampai di tingkat lapangan
  4. Keterampilan petugas IB sangat mempengaruhi keberhasilan IB. Makin terampil petugas IB, makin kecil resiko kegagalannya            
3.2.4 Kawin Alam (KA)
          Upaya peningkatan populasi ternak sapi dapat dilakukan denganintensifikasi kawin alam melalui distribusi pejantan unggul terseleksidari bangsa sapi lokal atau impor dengan empat manajemenperkawinan, yakni: (1) perkawinan model kandang individu, (2)perkawinan model kandang kelompok/umbaran, (3) perkawinan modelrench (paddock) dan (4) perkawinan model padang pengembalaan.Pejantan yang digunakan berasal dari hasil seleksisederhana, yaitu berdasarkan penilaian performans tubuh dan kualitassemen yang baik, berumur lebih dari dua tahun dan bebas dari penyakitreproduksi seperti EBL dan IBR.( Anonimus, 1991)                                     Untuk seleksi induk diharapkan memiliki deskriptif sebagai berikut: 1) indukdereman/manaan (nahunan), yakni dapat beranak setiap tahun, 2) skor kondisi tubuh 5-7 (Gambar 4), 5) badan tegap, sehat dan tidak cacat, 4)tulang pinggul dan ambing besar, lubang pusar agak dalam dan 5)Tinggi gumba > 135 cm dengan bobot badan > 300 kg.
Cara kawin alam ini dianjurkan dengan pertimbangan:
1.      secara alamiah ternak sapi potong memiliki kebebasan hidup, sehingga mendukung perkembangbiakannya secara normal
2.      secara alamiah ternak sapi jantan mampu mengetahui ternak sapi betina yang berahi
3.      penanganan perkawinan secara kawin alam memerlukan biaya yang sangat murah, tanpa adanya campur tangan manusia
4.      metode kawin alam sangat efektif dan efisien, sehingga dapat digunakan sebagai pola usaha budidaya ternak mulai dari cara intensif, semi intensif dan ektensif, bahkan juga dilakukan di beberapa perusahaan.

3.2.5 Kebuntingan
Sapi dinyatakan bunting setelah dilakukan pemeriksaan kebuntingan apabila dalam 60-90 hari setelah IB sapi tersebut tidak terjadi birahi kembali (return heat) maka sapi tersebut akan masuk program pemeliharaan sapi bunting. Pemeliharaan sapi bunting di UPTD Aneka Usaha Ternak terdapat 2 kelompok yaitu sapi bunting muda (3-6 bulan) dan sapi yang masuk dalam kebuntingan tua antara 6-9 bulan. Sapi yang bunting tua akan dipindahkan ke kandang tersendiri agar lebih memudahkan dalam pengawasan.( Murtidjo, 2001)                              Pemeriksaan kebuntingan pada sapi selain dapat untuk menentukan usia kebuntingan ternak sapi juga sekaligus dapat untuk menentukan diagnose perbedaan antara kebuntingan dengan kelainan atau gangguan pada organ reproduksi. Pemeriksaan kebuntingan dilakukan secara teratur dengan interval waktu antara 30-40 hari dari inseminasi yang terakhir. Sapi yang kemudian dinyatakan bunting, diperiksa kembali setelah 90-120 hari setelah pemeriksaan kebuntingan yang terakhir. Dengan demikian dapat untuk menghindari inseminasi ulang pada sapi yang sedang bunting (Partodihardjo,1980)                                       Letak kebuntingan pada ternak sapi biasanya pada daerah perut bagian kanan. Hal ini disebabkan aktivitas ovarium kanan dan kiri tidak sama. Ovarium kanan pada sapi lebih aktif dan besar bila dibandingkan dengan ovarium kiri. Volume uterus mengembang mengikuti pertumbuhan embrio atau fetus yang dikandungnya. Bagian cornu uterus akan berangsur turun, biasanya terjadi pada usia kebuntingan 90 hari. Pada umur 4 bulan ujung uterus sampai ke dasar ruang perut. Pada usia 5 bulan dasar perut dipenuhi oleh uterus yang bunting. Pada usia 9 bulan, dinding uterus bersentuhandengan dinding rektum (Sugeng, 2003)
3.3.6 Kelahiran
Kebuntingan pada sapi terjadi selama 275-285 hari dengan rata-rata 280 hari. Induk yang akan melahirkan menunjukkan tanda tanda seperti: vulva membengkak dan warna kemerahan, pinggul terasa lebih lentur, puting mulai membengkak dan sedikit meneteskan air susu, dan vulva akan mengeluarkan lendir saat mendekati kelahiran. Beberapa persiapan yang perlu dilakukan apabila sapi memperlihatkan gejala-gejala akan melahirkan adalah:
a) pembersihan kandang untuk memudahkan pergerakan induk sebelum
atau pada saat proses melahirkan,
b) lantai kandang diberi alas, berupa jerami padi kering sebagai alas agar cairan yang keluar selama proses kelahiran dapat terserap dengan cepat
c) sediakan obat-obatan untuk mengantisipasi keadaan yang darurat.
Secara umum proses kelahiran akan terjadi maksimal 8 jam, apabila melebihi waktu tersebut pedet belum juga keluar maka sebaiknya segera laporkan kepada Petugas Peternakan setempat.( Puslitbangnak. 2007)
  
KESIMPULAN
Dari praktikum yang kita laksanakan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      pubertas pada sapi betina dapat terjadi pada umur 5 – 15 bulan.
2.      Siklus birahi ternak betina terbagi menjadi 4 fase yaitu proestrus, estrus, metestrus, dan diestrus.
3.      Waktu yang tepat untuk melakukan IB pada ternak sapi adalah 15 s/d 18 jam setelah sapi menunjukkan gejala berahi.
4.      Perkawinan pada ternak dapat dapat dilakukan dalam dua metode, yaitu: kawin alami dan kawin buatan
5.      Sapi dinyatakan bunting setelah dilakukan pemeriksaan kebuntingan apabila dalam 60-90 hari setelah IB sapi tersebut tidak terjadi birahi kembali (return heat)

Contact Person

AVIAN JAYA FARM
Nama        : AVIAN TRENGGONO
Alamat      : Jl. Sukaraya-sukatani, Bekasi
Email         : aviantrenggono@yahoo.com
Hp              : 082137612234
Facebook : Avian Trenggono
Twitter      : Avian_trg
Website      : ternakapaaja.blogspot.co.id

VISITORS

Flag Counter